Rabu, 04 Februari 2015

SITI RABI’AH AL-ADAWIYAH | SEJARAH SINGKAT SITI RABI’AH AL-ADAWIYAH KATA-KATA HIKMAH

KUMPULAN CERITA ISLAM (KCI): SITI RABI’AH AL-ADAWIYAH | SEJARAH SINGKAT SITI RABI’AH AL-ADAWIYAH KATA-KATA HIKMAH

SITI RABI’AH AL-ADAWIYAH
   
Beliau adalah seorang wanita yang menjadi Ulama besar, seorang wanita yang menjadi Wakil (kekasih Allah) terkenal, dan ajaran-ajaran Tasawwufnya berisi “Cinta dan Kasih” yang berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Hadist.
     Ketika masih muda, Siti Rabi’ah Al-Adwiyah menjadi penyayi wanita terkenal. Beliau sering menyanyi untuk menghibur para penguasa, pejabat dan orang-orang bangsawan serta orang-orang kaya. Akhirnya beliau berjumpa dengan seorang Ulama besar bernama Tsauban. Beliau benar-benar insaf dan menyesali perbuatan-perbuatannya yang telah lalu setelah menerima beberapa petunjuk san nasehat. Beliau benar-benar bertaubat dan berjanji tidak akan melakukan kemaksiatan lagi.
    Sejak itu pula dimalam yang sunyi dan sepi, beliau pergunakan waktu dan kesempatan untuk bermunajat dan beribadah kepada Allah SWT. Dengan penuh penyesalan dan kerinduan kepada Allah, kekasihnya itu. Segep jiwa raga beliau serahkan seluruhnya untuk kepada Allah SWT. Dengan memohon dan mengharapkan kasih saying dan Rahmat-Nya. Beliau wafat tahun 135 H.
   Kemudin dengan taufiq dan Hidayah-Nya pula,tercapailah maksud dan tujuan Siti Rabi’ah Al-‘Adawiyah yang menjadi orang sholehah, menjadi ahli tasawwuf (Wali) terkenal dan menjadi ikutan para Wali lainnya. Kata-kata penyesalahn dari Siti Robi’ah-‘Adawiyah ini banyak dinyanyikan oleh seorang penyanyi Mesir yang sangat terkenal yaitu Ummu Kaltsum.

KATA-KATA HIKMAH BELIAU
1.        Suatu saat Sufyan Ats-Tsauri bersama Siti Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Dia berdo’a : “Ya Allah, berilah ridho kepasaku ”. Siti Rabi’ah Al-‘Adawiyah berkata : “Tidak kah engkau malu bila Allah tidak memberikan apa yang engkau minta itu ?”
2.       Ruwayn berkata : “Taubat ialah hendaklah kamu tidak akan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan dosa, sebagaimana yang telah dikatakan oleh seorang wali wanita, Siti Rabi’ah Al-‘Adawiyah : “saya memohon ampunan kepada Allah dari sedikitnya perbuatan benr dari diriku”.
3.       Alangkah sedikitnya rasa sedihku. Bila engkau benar-benar merasa sedih, maka tidak aka nada kesempatan untuk bersuka-suka.
4.       Permohonan ampun kita itu memerlukan pengulang-ulangan yang banyak sekali.
5.       Sufyan Ats-Tsauri memohon nasehat kepada Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Maka berkatalah beliau : “Engkau seorang yang baik, sekiranya engkau tidak mencintai dunia”.
6.       Beliau bersya’ir mengenai cinta kepada Allah, sebagai berikut :
Aku cinta pada-Mu karna dua sisi cinta, cinta akan diri-Mu dan cinta karna Engkau patut dicinta.
Adapun cinta akan diri-Mu
Aku selalu mengingat-Mu, bukan yang selain-Mu. Adapun cinta karena Engkau patut dicinta,aku tidak mengetahui alam sebelum tahu diri-Mu. Tiada puji dalam hal ini, dan itu bagi diriku,tetapi puji dalam hal ini, dan itu hanya milik-Mu.




Selasa, 03 Februari 2015

Syekh Hasan Al Bashri | Sejarah Singkat Syekh Hasan Al Bashri dan Kata kata Hikmah Syekh Hasan Al Bashri.

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Syekh Hasan Al Bashri | Sejarah Singkat Syekh Hasan Al Bashri dan Kata kata Hikmah Syekh Hasan Al Bashri.

        abu sa'id Al-Hasan bin Yassar Al-Bashri. Beliau lahir pada tahun 21 H. I-bunya bernama khairah. Beliau adalah seorang Ulama besar, iman besar dan orang ketermuka dari golongan Tabi'in (generasi setelah sahabat). Seorang ahli tafsir,Ulama fiqh, ahli ibadah dan Ulama ahli sunnah. Ilmu beliau sangat luas dan dalam, menjadi ikutan ummat dimasanya dan juga seorangwali (kekasih Allah) yang terkenal.
Nama lengkap beliau ialah
         Hujjatul Islam, Al-Ghazzali pernah berkata mengenai beliau : "perkataan Al-Hasan Al-Bashri mendekati perkataan Nabi. Petunjuk dan diperolehnya hampir sama dengan petunjuk para shahabat".
          Beliau juga seorang imam besar di Bashrah. Jenazah beliau yang mulia itu diantar atau dilepas oleh hampir seluruh penduduk Bashrah.

     KATA-KATA HIKMAH BELIAU

1. Nabi Isa as. selalu memakai pakaian dari bulu, memakan buah-buahan dan tidur dimanapun beliau                 berada dikala malam datang.
 2. Saya telah menemui tujuh puluh sahabat yang ikut perang Badar, pakaian mereka semua adalah                     benang  wool.
3.  Carilah manisnya amal dalam tiga perkara. Kalau kamu mendapatkannya, maka bergembiralah dan                teruslah mencapai tujuan, dan jika kamu belum mendapatkannya maka ketahuilah pintu masih tertutup            rapat. Tiga perkara itu ialah :
     a. ketika kamu membaca Al-Qur'an
     b. ketika kamu berdzikir , dan
       c. ketika kamu bersujud
 4.  Siksa bagi orang Alim itu matinya hati. ketika beliau ditanya : "Bagimana matinya hati itu ?"
      Beliau menjawab : " Mencari dunia dengan amal akhirat".
5. Tuntutlah ilmu, tapi tidak melupakan ibadah. Dan kerjakanlah ibadah, tapi tidak boleh lupa pada                    ilmu.
 6. Engkau akan mati, dan semuanya akan engkau tinggalkan. Hartamu nanti akan dibagi-bagikan                      kepada ahli warismu yang akan saling cakar-cakaran; termasuk kepada istrimu yang masih muda                  belia, ia akan kawin lagi

Selasa, 06 Januari 2015

USA | Penemuan Al-Qur’an yang mendahului perjalanan Columbus

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : USA | Penemuan Al-Qur’an yang mendahului perjalanan Columbus

Selama berabad-abad diyakini bahwa Christopher Columbus adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di Amerika, namun itu sekarang terbantahkan. Bukti baru dari potongan Al Qur’an abad ke-9 yang ditemukan oleh tim peneliti Universitas Rhode Island menunjukkan pelaut Muslim adalah orang pertama yang telah menetap di pantai Amerika sebelum Colombus.

Penemuan ini benar-benar mengejutkan para peneliti dan profesor Evan Yuriesco sebagai orang yang bertanggung jawab atas tim peneliti juga mengakuinya. Tim peneliti menemukan makam massal pelaut abad ke-9. Empat kerangka yang telah ditemukan dalam keadaan yang sudah lapuk termakan usia membuat tes DNA tidak mungkin di lakukan. Mereka hanya bisa membuktikan pembusukan dini gigi kerangka yang menjelaskan penyebab kematian karena pola makan yang buruk atau penyakit yang tidak diketahui.

Sejumlah temuan lain juga ditemukan, seperti kain, koin, dan dua pedang lengkung. Namun artefak yang tersisa berada dalam keadaan buruk dan hampir tidak bisa dikenali karena karat telah menghancurkannya. Menurut peneliti, kemungkinan mereka mebusuk karena usia dan kelembaban yang ekstrim.

Yang paling mengejutkan dua pot tanah liat ditemukan dalam keadaan yang cukup baik, salah satunya berisi manuskrip berharga dan yang lainnya tercampur rempah-rempah kering yang tak dikenal saat diidentifikasi. Temuan-temuan ini bisa membawa bukti lebih lanjut tentang asal-usul penghuni Amerika sebelum Colombus datang.


Sarjana Islam abad pertengahan Karim Ibnu Fallah dari Universitas Massachussets telah menetapkan bahwa usia manuskrip berasal dari abad ke-9 berdasarkan huruf Kufi dari naskah. "Kufi adalah bentuk kaligrafi tertua dari berbagai skrip Arab dan terdiri dari bentuk modifikasi script Nabatea tua" ia menjelaskan. 

"Kufi dikembangkan sekitar akhir abad ke-7 di Kufah dan Irak yang menjadi asal-usul pengambilan nama “Kufi”. Penemuan skrip Kufi di masa pra-Columbus sangat menarik dan jelas itu ada sebelum Colombus datang ke Amerika" tambah Karim Ibnu Fallah, tampak bersemangat.

Richard Francaviglia dari Universitas Willamette yang menjadi penulis buku paling laris terjual " Far Beyond the Western Sea of the Arabs…” menafsir ulang Klaim tentang Muslim Pra-Columbus di Amerika dan ia mengakui penemuan tak terduga tersebut.

"Premis Islam pra-Columbus di Dunia Baru ini menarik karena sangat masuk akal. Prestasi navigasi Muslim juga terkenal sangat canggih saat itu. Rekor menegaskan bahwa mereka cepat mengeksplorasi dan menjajah sebagian besar dari Dunia Lama pada abad ke-9 dan 10. Columbus sendiri jelas berhutang budi kepada keterampilan pelaut Muslim. Hanya ada sedikit keraguan bahwa umat Islam memiliki keahlian teknologi sebagai penjelajah lautan yang mencapai Dunia Baru, Amerika", tambah Francaviglia

Sumber : http://koranopini.com/berita-2/ragam/sejarah/item/2920-usa-penemuan-al-qur-an-yang-mendahului-perjalanan-columbus

Minggu, 21 Desember 2014

Ibu | Dalil tentang keutamaan Ibu dan Bapak

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ibu | Dalil tentang keutamaan Ibu dan Bapak

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

illustrasi
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (LihatTafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.
Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

"Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari."

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” 
(Adabul Mufrad no. 11; Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))

Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.

Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.
Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul BaariV : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.”(Lihat Syarah Muslim XII : 11)
Buatlah Ibu Tertawa

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))
Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tuadan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih NabiShalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..

Saudariku…jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

والله الموفّق إلى أقوم الطريق
وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

Sumber :
Artikel muslimah.or.id

Maraji’ :
  • Qur’anul Karim dan Terjemahannya
  • Rekaman Ta’lim Ustadz Abuz Zubair Al-Hawary Hafizhahullaahu Ta’ala
  • www.buletin.muslim.or.id
  • www.almanhaj.or.id
  • Asy-Syaikh DR. Muhammad Luqman Salafi, Rasysyul Barad Syarh Al-Adabil Mufrad, Daarud Daa-‘iy Linnasyr wat Tauzii’, Riyadh.
  • Imam Adz-Dzahabi, Al-Kabaair, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian.
  • Abu Abdillah Muhammad Luqman Muhammad As-Salafi, Syarah Adabul Mufrad Jilid 1, Griya Ilmu, Jakarta.
  • Imam Adz-Dzahabi, Al-Kaba’ir – Dosa-dosa yang Membinasakan, Darus Sunnah, Jakarta.
  • Abu Zubeir Hawary, Wahai Ibu Maafkan Anakmu, Darul Falah, Jakarta.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Birrul Walidain, At-Taqwa, Bogor.
  • Abu Umar Basyir, Sutra Kasih Ibunda – Kepadamu Berbakti Tiada Henti,Rumah Dzikir, Sukoharjo, Solo.

Senin, 17 November 2014

Malaikat JIbril as | Riwayat Hidup Singkat Malaikat Jibril As.

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Malaikat JIbril asRiwayat Hidup Singkat Malaikat Jibril As.


Nabi SAW bersabda : 

Illustrasi bukan sebenarnya
Setelah Allah SWT menciptakan Malaikat Jibril As dengan rupa yang sebaik-baiknya dan Dia jadikan untuknya enam ratus sayap, panjang tiap-tiap sayap sejarak antara timur dan barat, maka Jibril memandang kepada dirinya, lalu berkata: “Tuhanku apakah engkau telah menciptakan makhluk lain yang lebih indah rupanya daripada aku?”
Allah Ta’ala menjawab: “Tidak”.

Maka bangkitlah Jibril, lalu shalat dua rakaat karena rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala. Dia berdiri pada setiap rakaatnya selama 20.000 tahun.

Tatkala usai shalatnya, Allah SWT berfirman: “Wahai Jibril, engkau telah menyembah-Ku dengan sesungguh-sungguhnya, dan tidak ada satupun yang menyembah Aku seperti ibadatmu itu.  Akan tetapi, akan datang di akhir zaman seorang nabi mulia yang Aku kasihi, bernama Muhammad, dan dia mempunyai umat yang lemah lagi berdosa.  Mereka melakukan shalat dua rakaat dengan lalai dan tidak sempurna, dalam waktu yang sebentar saja (terburu-buru), dan pikiran-pikiran yang banyak, dan dosa-dosa yang besar. Namun demi Keperkasaan dan Keangungan-Ku, sesungguhnya shalat mereka lebih Aku sukai daripada shalatmu itu. Karena, shalat mereka berdasarkan dengan perintah-Ku, sedang engkau melakukan shalat tanpa perintah-Ku.”

Jibril berkata: “Wahai Tuhanku, apakah yang Engkau berikan kepada mereka sebagai imbalan dari ibadat mereka?”
Allah SWT menjawab: “Aku berikan mereka Surga Ma’Wa”.
Jibril pun meminta ijin kepada Allah untuk dapat melihat surga itu. Allah Ta’ala mengijinkannya. Maka datanglah Jibril, lalu dia kepakkan seluruh sayapnya, kemudian ia pun terbang. Tiap kali dia buka sepasang sayap, dia dapat menempuh jarak sejauh perjalanan 300.000 tahun, dan tiap kali dia tangkupkan, dia dapat menempuh jarak seperti itu pula. Dia terbang sedemikian rupa selama 300 tahun, namun dia tidak mampu, kemudian hinggaplah dia pada bayang-bayang sebuah pohoh, dan dia bersujud kepada Allah SWT, lalu berkata dalam sujudnya, “Tuhanku, apakah aku telah mencapai separuh surga itu, atau sepertiganya atau seperempatnya?”
Allah SWT menjawab: “ Wahai Jibril, sekiranya kamu terbang selama 300.000 tahun pun, dan walaupun Aku berikan kepadamu kekuatan lagi seperti kekuatanmu itu serta sayap-sayap lagi seperti sayap-sayapmu, lalu engkau terbang seperti yang telah engkau lakukan, namun engkau tidak akan mencapai sepersepuluh dari apa yang Aku berikan kepada umat Muhammad, sebagai imbalan dari shalat mereka dua rakaat.”
Wallohu 'alam.
(Misykat Al-Anwar)

Kamis, 13 November 2014

Sanadan | Pentingnya Sanad dan Ijazah

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Sanadan | Pentingnya Sanad dan Ijazah

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
Aang Nuh (Ulama Gentur)

أما بعد:

فإن أصدقَ الحديث كتابُ الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، وشرَّ الأمور محدثاتها، وكلّ مُحدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Salaf kita telah meninggalkan sebuah peninggalan berharga yang tidak terdapat sebelumnya dalam agama manapun selain Islam, dengan kokoh, kuat dan tidak pernah terputus sepanjang zaman. Inilah yang kita namakan dengan sanad.

Abdullah ibn Mubarok rahimahullahu (w. 181 H) dalam Mukadimah Shahih Muslim (1/87 – Nawawi), berkata :

الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Artinya : “Isnad itu bagian dari agama, seandainya tidak ada isnad orang-orang akan mengatakan apa yang dikehendakinya”.

Beliau setidaknya menyebutkan dua hal :
Pertama, tentang pentingnya isnad.
Kedua, tentang pentingnya memeriksa isnad.

Allah Ta’ala berfirman : 

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِينَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” 
(Qs. Al-Hujarat 6).


Seperti inilah ilmu yang bersambung sampai Rasullulloh saw:

1. Nabi Muhammad SAW bin A`bdillah As. , kepada
2. Imam Ibnu Umar ( Abdullah bin Umar bin Khatab Ra. )
3. Imam Nafi` bin Hurmuz tabi` Ibnu Umar
4. Imam Malik bin Anas Ra.
5. Imam Syafi`i Ra.
6. Imam Ibrahim Al-Mazany
7. Imam Abu Sa`id Al-Ambathy
8. Imam Abu Abbas bin Syuraij
9. Imam Ibrahim Al-maruzy
10. Imam Abu Bakar Al-Qofal
11. Imam Abdullah bin Yusuf bin Muhammad Al-Juwainy
12. Imam Haromain ( Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad Al-Juwainy )
13. Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazaly
14. Syekh Muhammad bin Yahya
15. Syekh Ardabily
16. Imam Nawawi
17. Syekh Atha uddin Al-Athary
18. Syekh Abdur Rahim Al-Iraqy
19. Syekh Ibnu Hajar Al-Asqolany
20. Syekh Zakariya Al-Angshary
21. Syekh Ahmad bin Hazar Al-Haitamy
22. Syekh Zainuddin Al-Malibary
23. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada
24.Syekh Hasan Musthofa bin Utsman Mas Sastramanggala karang anyar Bandung Rhm.
25.Syekh Ahmad Syujaa`i Gudang Kota batik Tasik Malaya
26.Syekh Ahmad Syaathiby bin Sa`id Gentur warung kondang Cianjur

27. Ulama Ulama Sukabumi dan Cianjur kebanyaknnya bersanad ke Syekh Ahmad Syaathibi Gentur

Syaikh-syaikh kita walaupun dengan segala kemudahan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka, tetap mempertahankan sanad-sanad hadits sampai pengarang kitab, dan tidak berlebihan dengannya. Misalkan Syaikh kita Al-Allamah Abdul Aziz ibn Baz (w. 1420 H) meriwayatkan kepada kita kitab-kitab Ibn Taimiyyah dari Syaikh Al-Allamah Al-Muhadits Abdul Haq Al-Hasyimi, beliau berkata:

أخبرنا أحمد بن عبدالله بن سالم البغدادي , عن عبدالرحمن بن حسن بن محمد بن عبدالوهاب , عن جده شيخ الإسلام محمد بن عبدالوهاب , عن الشيخ عبدالله بن إبراهيم المدني , عن الشيخ الفقيه عبدالقادر التغلبي , عن الشيخ المحدث عبدالباقي , عن الشيخ المحدث أحمد بن مفلح الوفائي , عن الشيخ الفقيه موسى بن أحمد الحجاوي , عن الشيخ الفقيه أحمد بن محمد المقدسي المعروف بالشويكي , عن الشيخ أحمد بن عبدالله العسكري , عن الشيخ علاء الدين المرداوي , عن الشيخ إبراهيم بن قندس البعلي , عن الشيخ علاء الدين علي بن العباس المعروف بابن اللحام , عن الشيخ الحافظ عبدالرحمن بن رجب , عن الحافظ شمس الدين ابن القيم , عن شيخ الإسلام الحافظ تقي الدين ابن تيمية.

Dari sanad diatas nampaklah kepada kita Syaikh-Syaikh besar di zamannya saling berhubungan bagaikan kalung mutiara yang tidak terputus seperti Syaikhul Islam Muhammad ibn Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibn Qayyim dan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah. Kalung-kalung itu tetap menjadi kalung mutiara ketika engkau meriwayatkan dari mereka lalu mengikuti langkah mereka dalam berpegang pada manhaj salaf.

Sanad-sanad seperti ini diriwayatkan dari berbagai jalan dan mutawatir kepada kita, tidak benar jika dikatakan sanad semacam ini jarang dan telah putus sebagian besarnya. Kitab-kitab Al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullahu misalnya telah diriwayatkan dari sedikitnya tiga belas jalan. Berikut ini, kami nukilkan sanad-sanadnya yang diberikan kepada kami dari salah seorang ikhwan di negeri Arab.

1. عن حماد بن محمد الأنصاري، وأبي تراب الظاهري، كلاهما عن والد الثاني: الشيخ عبد الحق الهاشمي، عن أحمد بن عبد الله بن سالم البغدادي، عن عبد الرحمن بن حسن ابن شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، عن جده شيخ الإسلام، عن عبد الله بن إبراهيم بن سيف النجدي، عن أبي المواهب محمد بن عبد الباقي بن عبد الباقي الحنبلي، عن أبيه، عن المعمر عبد الرحمن البهوتي الحنبلي، عن الجمال يوسف بن زكريا، عن أبيه القاضي زكريا الأنصاري، عن الحافظ ابن حجر، عن ابن الجزري، عن ابن كثير-رحمه الله.

2. عن محمد الشاذلي النيفر، وعبد القادر بن كرامة الله النجاري، كلاهما عن الشيخ عمر بن حمدان المحرسي، عن محمد المكي بن مصطفى -المعروف بابن عزوز-عن الشيخ أحمد بن إبراهيم بن عيسى النجدي، عن الشيخ عبد الرحمن ابن حسن بن شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، عن جده شيخ الإسلام، عن عبد الله بن إبراهيم بن سيف الفَرضِي النجدي، عن أبي المواهب بن تقي الدين الحنبلي، عن النجم الغزي، عن أبيه البدر محمد بن الرضي محمد الغزي الدمشقي، عن الحافظ السيوطي، عن بهاء الدين أبي البقاء البلقيني، عن ابن الحسباني، عن ابن كثير-رحمه الله.

3. عن الشيخ سليمان بن حمدان، عن الشيخ عبد الستار الدهلوي، عن أبي بكر خوقير، عن أحمد بن إبراهيم بن عيسى، عن عبد الرحمن بن حسن ابن شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، عن جده شيخ الإسلام، عن محمد حياة السندي، عن عبد الله بن سالم البصري، عن المسند زين العابدين الطبري، عن أبيه، عن الشمس الرملى، عن الحافظ السخاوي، عن الحافظ ابن حجر، عن ابن عنقة البسكري، عن ابن كثير -رحمه الله.

4. عن الشيخ أبى تراب الظاهري، عن الشيخ أحمد شاكر، عن عبد الستار الدهلوي، عن أبي بكر خوقير، عن أحمد بن إبراهيم بن عيسى، عن عبد الرحمن بن حسن ابن شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، عن عبد الرحمن الجبرتي المصري، عن مرتضى الزبيدي، عن عمر بن عقيل الحسيني، عن عبد الله بن سالم البصري، عن عبد الله بن محمد الديري الدمياطي، عن سلطان المزاحي، عن نور الدين علي الزيادي، عن الجمال يوسف بن عبد الله الأرموني، عن الحافظ السيوطي، عن المحب أبي المعالى الطبري، والرضي أبي حامد المخزومي، وأبي بكر المرشدي، كلهم عن الشهاب بن حجي، عن ابن كثير-رحمه الله.

5. عن الشيخ عبد الله بن عبد الرحمن السعد، عن الشيخ حمود التويجري، عن الشيخ عبد الله بن عبد العزيز العنقري، عن الشيخ سعد بن حمد بن عتيق، عن ابن عيسى، عن عبد الرحمن بن حسن، عن حسن القويسيني، عن داود القلعي، عن أحمد الجوهري، عن عبد الله بن سالم البصري، عن المسند زين العابدين بن عبد القادر الطبري، عن أبيه، عن المعمر عبد الواحد بن إبراهيم الحصاري، عن الحافظ السخاوي، عن الحافظ ابن حجر، عن سعد الدين النواوي، عن ابن كثير -رحمه الله.

6. عن الشيخ محمد بن عبد الله ابن آدُّ الشنقيطي، عن الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي، عن الشيخ علي بن ناصر أبي وادى، عن السيد نذير حسين الدهلوي، عن محمد إسحاق، عن عبد العزيز بن ولي الله الدهلوي، عن أبيه، عن أبي الطاهر الكردي، عن الصفي أحمد بن محمد بن العجل اليمني، عن يحيى بن مكرم الطبري، عن الحافظ السيوطي، عن ابن مقبل الحلبي، عن ابن اليونانية، عن ابن كثير -رحمه الله.

7. عن الشيخ بديع الدين الراشدي السندي، وأبى تراب الظاهري، كلاهما عن أبي الوفاء ثناء الله الأفرتسري، عن السيد نذير حسين، عن محمد إسحاق، عن عبد العزيز بن ولي الله الدهلوي، عن أبيه، عن أبي الطاهر محمد ابن إبراهيم الكردي، عن أبيه، عن الصفي القشاشي، عن أبي المواهب الشناوي، عن الشمس الرملي، عن الحافظ زكريا الأنصاري، عن الحافظ ابن حجر، عن ابن الحريري، عن ابن كثير -رحمه الله.

8. عن الشيخ أحمد بن يحيى النجمي، عن الشيخ عبد الله بن محمد القرعاوي، عن الشيخ أحمد الله القرشي، عن السيد نذير حسين، عن عبد الرحمن الكزبري، عن الشيخ مصطفى الرحمتي، عن الشيخ عبد الغني النابلسي، عن النجم الغزي، عن أبيه، عن الحافظ زكريا الأنصاري، عن الحافظ ابن حجر، عن محمد بن سلمان البغدادي -نـزيل القاهرة-عن ابن كثير-رحمه الله.

9. عن الشيخ عبد المنان بن عبد الحق النورفوري، عن أبي الخير السلفي، عن الشيخ محمد بن عبد اللطيف بن عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ، عن السيد نذير حسين عن محمد عابد السندي، عن عبد الله ابن شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، عن أبيه شيخ الإسلام، عن محمد حياة السندي، عن حسن العجيحي، عن أحمد بن محمد بن العجل اليمني، عن يحيى بن مكرم الطبري، عن الحافظ السيوطي، عن الشمس محمد بن محمد العقبي، والنجم أبي القاسم بن عمر بن محمد بن محمد بن محمد بن فهد المكي، كلاهما عن ابن الجزري، عن ابن كثير -رحمه الله.

10. عن الشيخ محمد حياة السندي السلفي، عن السيد نذير حسين -بالإجازة العامة-عن عبد الرحمن الكزبري، عن الزبيدى، عن المعمر السابق بن عرام، عن البابلي، عن محمد حجازي، عن المعمر محمد بن أركماش الحنفي، عن الحافظ ابن حجر عن محمد الحبتي عن ابن كثير -رحمه الله.

11. عن الشيخ شمس الدين بن محمد أشرف الأفغاني، والشيخ أحمد الله الفيروزفوري، كلاهما عن الحافظ محمد الجوندلوي، عن الحافظ عبد المنان الوزير آبادى، عن حسين بن محسن الأنصاري، عن محمد بن ناصر الحازمي وأحمد بن محمد علي الشوكاني، كلاهما عن والد الثاني الإمام الشوكاني، عن السيد عبد القادر بن أحمد، عن السيد سليمان بن يحيى بن عمر بن مقبول الأهدل، عن أحمد بن محمد الأهدل، عن أحمد النخلي، عن البابلي، عن إبراهيم اللقاني، عن الرملي، عن الحافظ زكريا الأنصاري، عن الحافظ ابن حجر، عن ابن الحسباني عن ابن كثير -رحمه الله.

12. عن الشيخ عبد الرحمن بن عبد الله بن أبي بكر الإحسائي، عن عبد الحي الكتاني، عن حسين بن محسن الأنصاري، عن محمد بن ناصر الحازمي، وأحمد بن محمد بن علي الشوكاني، كلاهما عن والد الثاني الإمام الشوكاني، عن يوسف بن محمد بن علاء الدين المزجاجي، عن أبيه، عن جده عن إبراهيم الكردي، عن أحمد بن محمد المدني، عن الشمس الرملي، عن الحافظ زكريا الأنصاري، عن الحافظ ابن حجر، عن الشهاب بن حجي، عن ابن كثير -رحمه الله.

13. عن الشيخ القاضي محمد إسماعيل العمراني اليماني، عن القاضي عبد الله حميد عن الشيخ علي السدمي، عن جدِّ العمراني القاضي محمد بن محمد العمراني، عن الإمام الشوكاني، عن السيد عبد القادر الكوكباني، عن عبد الخالق بن أبي بكر المزجاجي، عن أبي طاهر الكردي، عن عبد الله بن سالم البصري، عن الشمس محمد بن علي المكتبي، عن النجم محمد بن البدر الغزي، عن أبيه، عن الحافظ السيوطي، عن ناصر الدين أبي الفتح محمد بن شهاب الدين أحمد بن أبي بكر البوصيري، عن محمد الحبتي، عن ابن كثير -رحمه الله.

Sanad dari Syaikh-Syaikh seperti Syaikh Hamad Al-Ansori, Syaikh Abu Turab, Syaikh Sulaiman ibn Hamdan, Syaikh Badi’uddin Ar-Rasyidi dan lainnya diawal sanad yang kami sebutkan diatas, telah diriwayatkan lagi oleh banyak syaikh kepada kita dari berbagai jalan secara mutawatir pula, dan hampir semua Syaikh Ahli Hadits Besar Salaf meriwayatkan dari mereka.

Bahkan tidak hanya muhadits salafi yang memiliki sanad macam ini, bahkan syakh-syaikh yang menyimpang dari manhaj salaf seperti Quburiyyin pun memilikinya. Diantara yang menjadi ‘musnad’ mereka adalah Syaikh Abdullah Al-Ghumari. Dan diriwayatkan darinya oleh banyak Syaikh. Salah satu diantara mereka yang sampai kepada kami berkata untuk sanad Kitab Shahih Bukhari :

حدثني عبد الله بن محمد بن الصديق الغماري، قال: أخبرني به أبو عبد الله محمد إمام خطيب الجامع الأزهر، قال: أخبرنا والدي أبو المعالي إبراهيم بن علي ابن حسن الشهير بالسقا، عن ولي الله محمد ثُعيلب بن سالم بن ناصر الفشني، عن أبي العباس شهاب الدين أحمد ابن عبد الفتاح الملوي، عن أبي العز محمد بن أحمد بن أحمد العجمي، عن شمس الدين محمد ابن أحمد ابن الخطيب الشَوْبَري، عن شمس الدين محمد بن أحمد بن حمزة الرّملي، عن زين الدين زكرياء بن محمد الأنصاري، عن البرهان إبراهيم بن أحمد التَّنُوخي البعلي الدمشقي ثم القاهري، عن الشهاب أبي العبّاس أحمد ابن أبي طالب الحَجَّار ، عن السِّراج أبي عبد الله الحسين بن المبارك الزَبيدي ثم البغدادي، عن أبي الوقت عبد الأول بن عيسى السِّجزْي الهروي، عن أبي الحسن عبد الرحمن بن محمد الداودي البوشنجي، عن أبي محمد عبد الله بن أحمد بن حموية السرخسي، عن أبي عبد الله محمد بن يوسف الفرَبْري، عن الإمام الحجة أبي عبد الله محمد بن إسماعيل.

Untuk Shahih Muslim :

حدثني عبد الله بن محمد بن الصديق الغماري، قال: أرويه عن الشيخ محمد دويدار الكَفْراوي التَلاوي، عن الشيخ إبراهيم الباجوري، عن أبي عبد الله محمد ابن محمد الأمير، عن أبي الحسن علي بن محمد العربي السَّقاط، عن إبراهيم الفيومي، عن أحمد الغرقاوي، عن الشيخ علي الأجهوري، عن نور الدين علي ابن أبي بكر القراني، عن الحافظ جلال الدين السيوطي، عن علم الدين البُلْقيني، عن بُرهان الدين أبي إسحاق التّنُوخي، عن أبي الفضل سليمان بن حمزة، عن أبي الحسن علي ابن الحسين بن المقيَّر، عن الحافظ أبي الفضل محمد بن ناصر السُّلامي، عن الحافظ أبي القاسم عبد الرحمن ابن أبي عبد الله بن مَنْدَه، عن الحافظ أبي بكر محمد بن عبد الله بن محمد بن زكرياء الجَوْزَقي، عن أبي الحسن مكي بن عبدان النيسابوري، عن الإمام الحجة أبي الحجاج مسلم بن الحجاج بن مسلم القُشَيري النَّيْسابوري

Terakhir kami nukilkan sanad Musalsal al-aulia yang terkenal itu yaitu hadits :

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Dari jalan Syaikh Abdul Hay ibn Abdul Kabir Al-Katani dan lainnya, yang darinya diriwayatkan oleh banyak Ahli Hadits sampai kepada kita.

سندنا للحديث المسلسل بالأولية

أروي حديث الأولية عن السيد عبد الحي الكتاني ، عن والده الشيخ عبد الكبير الكتاني قال وهو أول حديث سمعته منه ، عن الشيخ عبد الغني الدهلوي (ح ) ويرويه عاليا عن أبي البركات السيد صافي الجفري بمكة قال وهو أول حديث سمعته منه كلاهما عن الشيخ عابد السندي الأنصاري قالا وهو أول حديث سمعته منه ، عن الشيخ صالح الفلاني وهو أول حديث سمعته منه ، عن المعمر محمد بن سنة العمري وهو أول عن مولاي الشريف محمد بن عبد الله الواولتي ، عن محمد بن محمد أركماش الحنفي ، عن الحافظ ابن حجر العسقلاني ، عن الحافظ زين الدين العراقي عن الصدر الميدومي ، عن أبي النجيب الحراني ، قال حدثني به ابن الجوزي عن أبي سعيد المؤذن النيسابوري ، عن أبي طاهر محمد بن محمش الزيادي عن أحمد بن يحيى البزاز ، عن عبد الرحمن بن بشر ، قال حدثني به سفيان ابن عيينة .

وهنا انتهت سلسلة الأولية ، ورواه سفيان بلا تسلسل عن عمرو بن دينار ، عن أبي قابوس ، عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما قال النبي صلى الله عليه وسلم الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء .

بحديث الرحمة المسلسل بالأولية :

فإني أرويه عن شيخنا سليمان بن حمدان ، وهو أول حديث سمعته منه ونقلته من خطه في الثالث والعشرين من شهر شعبان سنة ثلاثة وتسعين وثلاثمائة وألف لهجرة ، وهو يرويه عن غير واحدٍ من المشايخ الأجلاّء قال شيخنا : منهم محدث الحجاز في عصره أبو الفيض وأبو الأسعاد عبدالستار بن عبدالوهاب الصديقي الحنفي الدهلوي ثم المكي وهو أول حديث سمعته منه بمنزلة بمحلة الشامية بمكة المكرمة سنة ألف وثلاثمائة وخمسين قال حدثني به كل من الرحلة المحدث المسند علي بن طاهر الوتري المدني والفقيه المسند المعمر عبدالقادر الطرابلسي والعلامة الأديب اللغوي عبدالجليل برّادة وهو أول حديث سمعته منهم قالوا حدثنا به علامة المدينة

ومحدثها الشيخ عبدالغني بن سعيد المجددي وهو أول حديث سمعناه منه .

( ح ) وأرويه أيضا عن شيخنا حافظ العصر ومسند الوقت ومحدثه أبو الأسعاد وأبو الإقبال محمد عبدالحي بن عبدالكبير الكتاني المغربي الفاسي وهو أول حديث سمعته منه في اليوم السابع والعشرين من ذي الحجة الحرام عام الواحد والخمسين بعد الثلاثمائة والألف بمنزلة بباب العمرة تجاه الكعبة المعظمة قال حدثني به والدي عبدالكبير الكتاني وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الشيخ عبدالغني بن أبي سعيد المجددي الدهلوي ثم المدني وهو أول حديث سمعته منه .

( ح ) وقال شيخنا محمد عبدالحي : وأرويه عاليا عن المعمّر أبي البركات صافي الجفري حدثني به الشيخ محمد عابد الأنصاري السندي وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به عمّي محمد بن حسين الأنصاري وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الشيخ أبو الحسن السندي وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الشيخ محمد حياة المدني وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الشيخ عبدالله بن سالم البصري ثم المكي وهو أول حديث سمعته منه ، قال حدثني به الشيخ محمد بن الشيخ علاء الدين البابلي المصري الشافعي وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني شهاب أحمد محمد الشلبي وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الجمال يوسف الأنصاري الخزرجي وهو أول حديث سمعته منه عن [والده شيخ الإسلام زكرياء الأنصار] قال وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به الجمال إبراهيم بن علي بن أحمد [القلقتندي] وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به[الصدر محي السنة الحسين بن مسعود البغوي] وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني محمد بن إبراهيم الميدومي وهو أول حديث سمعته منه.

( ح ) وقال الشيخ محمد عابد وأرويه عاليا عن الشيخ صالح الفلاّني – بالفاء ولام مشددة – المدني مؤلف ( قطف الثمر ) وهو أول حديث سمعته منه عن الشيخ المعمّر محمد بن سنّة – بكسر السين وتشديد النون – العُمري وهو أول حديث سمعته منه عن الشريف محمد بن عبدالله [ الواولتي ] من ولاته جهة بالمغرب وهو أول حديث سمعته منه عن المعمر محمد بن أركماش الحنفي وهو أول حديث سمعته منه عن الحافظ أحمد بن حجر العسقلاني وهو أول حديث سمعته منه عن شيخه الحافظ زين الدين عبدالرحيم العراقي وهو أول حديث سمعته منه عن أبي الفتح الميدومي وهو أول حديث سمعته منه ، قال وحدثني به أبو الفرج بن الجوزي وهو أول حديث سمعته منه عن أبي [ سعد إسماعيل بن صالح] النيـسابوري وهو أول حديث سمعته منه عن والـده أبي [حامد] صالح المؤذن وهو أول حديث سمعته منه عن أبي طاهر محمد بن محمِش وزان مسجد الزيادي وهو أول حديث سمعته منه عن أحمد بن يحي البزاز - بزايين – وهو أول حديث سمعته منه عن عبدالرحمن بن بشر بن الحكم النيسابوري وهو أول حديث سمعته منه قال حدثني به أبو محمد سفيان بن عيينة وهو أول حديث سمعته منه ، وهنا انقطعت سلسلة الأولية ، فإن كل واحد من الرواة قال : ( وهو أول حديث سمته منه ) إلى ابن عيينة وهو رواه بلا تسلسل عن عمرو بن دينار عن أبي قابوس مولى عبدالله بن عمرو بن العاص عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك وتعالى ، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء )) .

Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku meminta ampun kepada-Nya.



Senin, 03 November 2014

Serban dan Kopiah | Hukum menggunakan Sorban dan Kopiah

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Serban dan Kopiah | Hukum menggunakan Sorban dan Kopiah 

Abuya Dimyati Banten (Alm)
"Cintailah mereka yang meniru ajaran dan perilaku Rosululloh saw walaupun kita belum bisa melaksanakannya", karena suatu waktu kita mungkin dibisakan untuk menggunakannya.
Memakai serban (Sorban) dan kopiah adalah sebahagian daripada Sunnah Nabi, ini berdasarkan sabdanya:


Sabda Rasulullah SAW:

دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة يوم الفتح و عليه عمامة سوداء

Maksud: 
“Nabi SAW memasuki Kota Mekah sewaktu pembebasan Mekah, baginda memakai serban hitam”.

Pemakaian serban dan kopiah sudah sinonim dalam masyarakat Islam di seluruh dunia dan ia juga telah dijadikan amalan seharian masyarakat walaupun di luar urusan ibadah terhadap Allah. Justeru itu, adalah sukar bagi sesetengah individu untuk menukar pemakaian serban dan kopiah kepada pemakaian songkok seperti yang biasa dipakai oleh segelintir masyarakat Melayu.

Sheikh Muhammad Rasyid Ridho pernah ditanya adakah memakai serban itu sunnah rasulullah SAW dan adakah orang yang memakai serban itu mendapat pahala. Untuk menjawab soalan itu, beliau memberikan jawapan berikut :

Telah sabit dalam hadist bahawa Nabi SAW terkadang :
1. memakai serban di atas kopiah, dan inilah sering berlaku
2. memakai serban tanpa kopiah
3. memakai kopiah tanpa serban

Di akhir jawabannya, beliau berkata: Walaupun tidak ada datang perintah atau sumber hukum ( yang kuat ) supaya mewajibkan memakai serban atas dasar sebagai salah satu hukum agama dan syariat, tetapi barangsiapa yang memakainya dengan niat menyerupai cara Rasulullah SAW berpakaian dan sebagai tanda kasih kepada Baginda SAW, tentulah niat ini mendapat ganjaran pahala.”

Sabda Rasulullah SAW:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلبس العمامة على القلانس

Maksud : 
“Sesungguhnya Rasulullah SAW memakai serban bersama kopiah”.

Imam Sayuti Rahimahullah berkata : “Apa yang disebutkan di atas menunjukkan bahawa yang dipakai oleh Nabi SAW dan sahabat RA di bawah serban ialah al-Qalansuah atau kopiah. Kalimat Kopiah yang disebutkan pula menunjukkan bahawa ianya adalah lebih menyerupai sesuatu yang diperbuat dari jenis kain kapas dan bulu.

Al-Baihaqi pernah meriwayatkan daripada Ibnu Umar bahawa Nabi SAW memakai kopiah putih. Ini menjelaskan bahawa pemakaian kopiah juga adalah sunnah Rasulullah SAW.

Kesimpulannya, sesungguhnya menurut kajian para ahli dan pentahqiq hadith, tidak ada satu pun hadith yang sahih mahupun hassan mengenai KEUTAMAAN/KELEBIHAN memakai serban
melainkan disebut di dalam hadith-hadith bahawa Rasulullah memakainya. Dan sifat
hadith-hadith yang disebutkan di atas bertentangan dengan hadith mutawatir yang lain.

Pandangan Ulamak Terhadap Serban & Kopiah :

Firman Allah Taala dalam Surah Al-A’raf ayat 31
يٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَاشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada setiap kali kamu ke tempat ibadah ( atau mengerjakan sembahyang ) dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu berlebuhan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas”. 

Menurut Imam al-Mawardi, maksud berhias di dalam shalat ialah memakai secantik-cantik pakaian . Manakala menurut pendapat Imam Abu Hayyan, zahir ayat di atas menunjukkan bahawa berhias dengan secantik-secantik pakaian ( termasuklah memakai songkok dan berserban ) bukan sahaja dituntut di dalam shalat bahkan di luar waktu shalat ( setiap masa dan ketika ) .

Menurut Sheikh Mahmud Syaltut, ketika memberi jawapan kepada soalan berhubung dengan shalat tanpa serban, kopiah atau songkok di kepala, beliau berpendapat tidaklah menjadi syarat sah shalat dengan menutup kepala atau tidak dan tidak pula disyaratkan jikalau untuk menutup kepala mesti dengan penutup khas. Walaupun begitu, bagi seseorang Islam eloklah dia bershalat dengan memakai serban, kopiah atau songkok dengan syarat tidak menutup dahi ketika sujud.

Berdasarkan kepada hujah-hujah atau dalil-dalil di atas jelaslah bahawa pemakaian serban dan kopiah adalah merupakan sunnah Rasulullah SAW. Ia perlu dihayati setiap masa sama ada di dalam atau di luar solat. Di samping ianya menunjukkan ketaqwaan, kehebatan, kewibawaan, keilmuan si pemakainya. Walaupun terdapat kekadang segelintir masyarakat kita memandang serong atau berprasangka tidak baik dikalangan orang yang memakai kopiah atau serban , kerana ceteknya cara berfikir atau tiada kefahaman mengenainya.

Wallahu Ta'ala A'lam Bish Showab

Copyright @ 2013 ilmu tentang islam.