Tampilkan postingan dengan label Ulama Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Ulama Indonesia | Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein (Mama Cimuncang)

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein (Mama Cimuncang)
Maqom Mama Nur Husain

Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein (Mama Cimuncang)
Bermakam di kandang Jarah Kampung Pesantren Cimuncang Kebonpedes Sukaraja
Diriwayatkan, bahwa beliau pernah tinggal di Ciwalen Cianjur, karena pertempuran dengan Belanda yang menyebabkan beliau hijrah ke daerah jampang lalu ke daerah Kebonpedes dan mendirikan pesantren yang kini diyakini sebagai pesantren pertama dan tertua di Sukabumi yang kemudian daerah tersebut dinamakan Kampung Pesantren di daerah Cimuncang.
Nama Cimuncang tersebut diambil dari sungai Cimuncang, yaitu ketika beliau membuat saluran air untuk persawahan dan perkebunan di daerah kebon pedes dan kampung pesantren yang airnya diambil dari sungai Cimuncang. 
Nama : Assyaikh KH. Tb. Muhammad Nur Husain 
Lahir di : Banten, +1163 H/+ 1742 M
Silsilah : Merujuk kepada buku H.Mukhtar Effendi, BA 

Jalur Banten & Jalur Pamijahan 
Dari Pihak Ayah : KH. Tb Muhammad Nur Husain bin Tubagus Syarifuddin bin Abu Mahasin Zainal Abidin bin Syeikh Maulana Mansyur (Cikadueun) bin Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa bin Syeikh Abdul Mahalli Ahmad bin Syeikh Abdul Mafahir, Syeikh Maulana Muhammad Nasruddin bin Syeikh Maulana Yusuf bin Syeikh Maulana Hasanudin bin Syeikh Syarif hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Dari Pihak Ibu: KH. Tb. Muhammad Nur Husain bin Nyimas Nurkasih binti R. Bangsa Santana (Dalem Bojong) bin Syeikh Abdul Muhyi (Pamijahan) bin Nyai Raden Ajeng Tanganjiyah binti RK.Sambirana bin Raden Wira Candera bin Pangeran Girilaya bin Sunan Giri.
Dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai nasab; Syekh Abdul Muhyi bin sembah Lebe Wartakusumah bin Entol Panengah bin Mudik Cikawung Ading bin Kuda Lanjar bin Ratu Puhun bin Prabu Siliwangi I dan seterusnya.

Dari Pihak Isteri
Nyi Mas Alebah binti Abdul Wahhab bin Nyai Raden Karanggan bin Raden Arya Wiratanudatar Cikundul (R. Jayasasana) bin Raden Arya Wangsa Ghofarana bin Sunan Ciburiang bin Sunan Wanapri bin Sunan Parunggangsa Bin Syeikh Maulana Yusuf bin Syeikh Maulana Hasanudin bin Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Dari Sunan Parunggangsa mempunyai nasab; bin Ratu Pucuk Umum bin Nilakendra bin Prabu Saut bin Buwanawisesa dan seterusnya.
Perjalanan Tolab Ilmunya : di sekitar Jawa, Mesir, Makkah dan Madinah Disiplin ilmu yang dikuasai dan diajarkan antara lain: 
Beliau adalah Hafidz Qur’an 30 Juzu, Tajwid, Tafsir, Hadist, Tauhid, Fiqih, Tashowwuf. Kiai Cimuncang pengamal dan Mursyid Thoriqot Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah. 
Ilmu-ilmu alat : nahwu, shorof, ma’ani, bayan, badi’, makulat, wadlo, istiqoq, munadhoroh, mantiq, falak, Hikmat, dll.
Pertama mendirikan Pesantren di Cieundeur – Cianjur pada saat pembuatan terowongan lampegan. dan pada tahun 1261 H/1840 M (169 Th yang lalu) mendirikan 15 pondok di sebuah daerah yang sampai sekarang di sebut Kp.Pesantren. karena dikejar-kejar penjajah pindah ke Sukabumi mendirikan pesantren di wilayah jampang kulon Kab. Sukabumi dan selanjutnya karena terus menerus di kejar-kejar Penjajah Pindah ke Kp. Muara Sukaraja dan selanjutnya ke dekat sungai Cimandiri yang sekarang di sebut Kampung Pesantren Cimuncang desa Jambenenggang kec. Kebon Pedes Kab. Sukabumi.
Dan selanjutnya kepemimpinan pesantren di lanjutkan oleh putranya KH. Abdullah Siroj (Mama Muhammad Isa), dilanjutkan oleh menantu Syeikh Muhammad Isa yang bernama KH. Ma’lum Muhammad Zainuddin bin KH. Nur Bayan dari Cibeber- Cianjur. di masa kepemimpinan beliaulah pesantren Cimuncang ini mengalami masa kejayaannya.
Para santri calon ulama yang belajar di pesantren tersebut berasal antara lain dari daerah Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Cianjur, Bandung, Garut, Banten, Cirebon dll, juga dari luar Jawa.
Selain membina santri juga beliau ( KH.Tb M Nur Husain ) juga beliau mengembangkan ekonomi masyarakat melalui pertanian, membuka lahan sawah baru dengan membuat selokan cibendung yang bersumber dari sungai Cimuncang bendungan pasir kambing sejauh 4 Km yang bersumber dari Batu Karut Sukaraja.
kitab-kitab peninggalan Mama Cimuncang dan putranya Syeikh Isa dan Mama Ma’lum antara lain Al-Qur’an tulis Tangan, Kitab Do’a dan Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah, kitab Tauhid.
Sampai sekarang keturunan dari Mama Cimuncang sudah mencapai turunan ke- 10 tersebar di wilayah Jawa Barat dan di Provinsi-Provinsi lain di tanah air juga di luar Negeri dengan profesi Ulama, Pejabat Pemerintahan, pengusaha, Wakil Rakyat, dsb.

Jumat, 13 Desember 2013

Ulama Indonesia | Syeikh Abdul Muhyi

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | Syeikh Abdul Muhyi 
Syeikh Abdul Muhyi (1650-1730):Wali Allah, Ulama Besar di Jawa Barat Asli Sasak

di Maqom Syekh Abdul Muhyi Pamijahan
Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.

Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.

Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.

Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru jawa Barat.

Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.

Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.

Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.

Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.

Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.

Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah, hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).

Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah Swt.

Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)

Senin, 09 Desember 2013

Ulama Indonesia | Syekh Abdul Muhyi Pamijahan

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | Syekh Abdul Muhyi Pamijahan

Syekh Abdul Muhyi Wali Penyebar ‘Martabat Tujuh” di Tatar Sunda
Gunung Mujarod menyimpan banyak misteri karena gunung ini dikenal hanya oleh para Wali khususnya di Indonesia. Jika gunung Mujarod memunculkan sinar terang benderang itu artinya sebagai pertanda lahirnya sosok waliyulloh. Dan Wali Allah itu menyebarkan ajaran doktrin “martabat tujuh” yang kelak mempengaruhi pemikiran Tasawuf di Pulau Jawa. Dan inilah kisah sang wali yang dituturkan oleh Imam Mudofar, seorang santri asal Jawa Barat.

Gunung Mujarod adalah menyimpan banyak misteri karena gunung ini dikenal hanya oleh para Wali khususnya di Indonesia. Jika gunung Mujarod memunculkan sinar terang benderang itu artinya sebagai pertanda lahirnya sosok waliyulloh juru penyelamat di bumi tanah Jawa.
Konon lebih dari 350 tahun yang lampau gunung ini raib dari pandangan mata manusia biasa, seperti halnya cerita dari kisah perjalanan hidup Habib Muh, Tegal Rejo Magelang Jateng, yang pernah kami ketahui sewaktu masih dipesantrennya pada tahun 1987 lalu.
Beliau bercerita bahwa dirinya pernah masuk kedalam goa Mujarod atas panggilan yang empunya yaitu, Syekh Sanusi, disaat beliau kedapatan anugerah di syahid menjadi Waliyulloh Abdal, pada tahun 1982 lalu, dan lewat kisahnya ini yang menyatakan bahwa disaat beliau baru masuk kedalam goa tersebut, beliau langsung disambut oleh ratusan kalajengking yang sangat besar. Masya Alloh!!! Yaitu berkisar 40 cm.
Bukan hanya sebatas itu saja beliau di uji dalam keyakinannya saat berada di dalam goa Mujarod, beliau juga sempat melihat secara mata telanjang, beberapa ekor ular raksasa yang besarnya melebihi badan mobil siap menghadangnya.
Dan ini bersifat riil bukan hanya sekedar fatamorgana dari sifat lelembut atau binatang jejadian yang hanya sekilas pandang. Sebab semua binatang yang telah mendiami gunung tadi telah berusia lebih dari ratusan tahun dan tidak pernah terusik oleh manusi yang berani masuk. Terangnya.
Juga kisah yang pernah dialami oleh Habib Nur Ali yang pernah masuk kedalamnya disaat mendapat panggilan dari Syekh Sanusi atas pengangkatan dirinya sebagai Waliyulloh bangsa Rijal.
Beliau bercerita "Tidak ada syafaat yang lebih besar di seluruh wilayah yang ada di Indonesia ini kecuali goa gunung Mujarod. Dan tidak ada suatu pengangkatan waliyulloh yang diakui oleh wali lainnya kecuali lewat tangan Syekh Sanusi sendiri sebagai makom tertinggi yang telah mendapatkan kefadholan dari Alloh SWT, dengan diberikannya umur panjang sampai hari kiamat tiba karena kemustajabahan air Mujarod yang dimilikinya dan tidak ada satupun wali di dunia ini yang tidak butuh rohmatnya, karena sesungguhnya beliau tercipta sebagai raja dari semua waliyulloh"
"Jangan sesekali masuk kedalamnya sebelum yang empunya datang sendiri memanggil anda, sebab lebih dari seabad yang lalu para manusia yang mengaku dirinya ahli bathin tinggi, lebih dari 77 orang telah raib dan tidak bisa diketahui jasad dan rimbanya". Lanjutnya.
Dari beberapa kisah yang pernah dituturkan oleh para masyaikh ini membuat siapapun yang mendengar akan bergidik dan berfikir seratus kali untuk bisa masuk kedalam goa Gunung Mujarod yang penuh akan karomah juga sebaliknya penuh misteri yang sangat mengerikan. 
Mungkin pembaca sekalian masih bertanya dengan kisah ini, sebenarnya dimana letak sesungguhnya goa Gunung Mujarod tersebut?
Menurut cerita para masyaikh tadi bahwa, gunung Mujarod ini terletak disalah satu areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan atau yang dikenal dengan Syekh Abdul Muhyi, Tasik, Jawa Barat yang sangat kondang akan derajat kewaliyannya dan banyak diziarohi oleh berbagai lapisan masyarakat lokal maupun dari manca negara.
Namun bila anda pernah datang ke sana dan membeli buku sejarah yang banyak dijual bebas di sepanjang toko kaki lima seputar areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, dengan judul bukunya "Sejarah perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyulloh Pamijahan" yang di tulis oleh, Drs, H. AA. Khaerussalam, disitu tidak dituliskan sama sekali tentang letak goa gunung Mujarod yang membawa banyak rohmat dan maghfiroh untuk seluruh pengangkatan waliyulloh sedunia.
Mungkin bisa jadi mereka memandangnya tidak perlu membesarkan nama dan letak goa Mujarod, yang dianggapnya tidak menguntungkan sama sekali dari pihak peziarah atau tidak bisa di komersilkan, alasannya keluarga mereka juga tidak ada yang berani sampai masuk kedalamnya, sehingga dengan ini pula para keturunannya tidak sampai mencantumkan perihal goa gunung Mujarod yang sebenarnya.
Nah, dari kisah ini pula diawal bulan Syawal 1429,H, lalu, guruku mengundangku yang intinya menyuruh Saya datang ke goa gunung Mujarod, karena sebuah panggilan darinya (Syekh Sanusi).
Seperti halilintar menyambar disiang bolong, hatiku kaget dan langsung bergetar keras mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh guruku tadi, siapa yang tidak takut dengan nama goa gunung Mujarod yang penuh dengan kengerian dan fenomena gaib yang bisa membawa badan kita seketika raib disaat baru masuk kedalamnya.
Namun sepertinya guruku tidak mau ambil pusing dan mengharuskan aku secepatnya datang ke sana. "Ini perintahnya dan bukan kamu yang pinta, lakukan apa yang aku ucapkan" kata sang guru dengan tegas.
Sepulang dari kediaman sang guru hatiku terus bergemuruh antara siap dan tidak, untuk sampai bisa melaksanakan datang ke goa gunung Mujarod dan mulai hari itu pula aku diwajibkan puasa sampai hatiku benar benar merasa tenang dan siap dengan segala keyakinannya untuk sampai datang ke goa gunung Mujarod.
Setengah bulan telah berlalu, hatiku semakin mantap untuk sesegera mungkin melaksanakan tugas mulia yang di embankan oleh sang guru, dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi akupun langsung pamit minta restunya.
Namun sebelum keberangkatanku ke gunung goa Mujarod, guruku langsung mengijazahkan amaliyah khususiah yaitu berupa, Hizib Jabarut dan Uluhiyyah, "Bawalah santrimu yang banyak untuk mendampingimu sampai tujuan dan pilihlah mereka yang hatinya telah memahami keikhlasan," dan setelah itu beliau juga memberikan beberapa tata cara dan kunci disaat akan masuk ke goa gunung Mujarod, yang intinya agar selamat dari segala binatang buas dan bangsa lelembut yang sengaja menghadang dan menyesatkan perjalanan mulia ini.
Selepas dari sang guru, aku langsung mengumpulkan beberapa teman Jam’ul Ijazah yang akan mendampingi pemberangkatanku nanti dan ternyata tidak semua Jam’ul Ijazah masuk dalam kategori yang aku inginkan, sehingga waktu itu hanya 15 orang saja yang aku bawa ikut serta.
Sampailah kita semua didepan pintu goa gunung Mujarod, lewat panduan dari salah satu kepercayaan santri sang guru. Ternyata apa yang aku takutkan selama ini tidak sampai terjadi, sebab goa yang semestinya gelap gulita itu ternyata terang benderang karena ternyata didalamnya sudah lebih dulu ada dua orang sebelum golongan kita datang, dua orang ini berbadan tinggi besar dan sepertinya bukan dari bangsa kita, keduanya memakai pakaian dan sorban serba putih yang disaat kita masuk keduanya menutup wajahnya dengan sorban yang dipakainya.
Nah, dari sorban merekalah cahaya terang benderang itu berasal, sehingga dengan pancaran sinar yang teramat terang ini kita semua akhirnya bisa melihat seisi ruangan goa yang ternyata semuanya terbuat dari marmer asli.
Namun sebelumnya, aku mohon maaf kepada pembaca sekalian, karena tidak bisa menceritakan secara keseluruhan apa yang terjadi didalam goa tersebut sebab bersifat sirri atau rahasia, hanya saja di dalam goa tersebut banyak fenomena dan keganjilan yang tidak masuk diakal yang kami rasakan secara nyata, sehingga semua yang ikut serta masuk ikut pula menyaksikannya secara takjub dan ajib yang mungkin menurut mereka tidak bisa hilang dari ingatannya selama umur masih dikandung badan.

Mustika Hut
Kami lanjutkan lagi ke cerita seputar dunia mistik yang aku peroleh. Lewat panduan sang guru yang telah diajarkan padaku, alhamdulillah akhirnya kita semua selamat dan bisa pulang kembali tanpa sedikitpun ada kendala, walau dalam perjuangan yang sebenarnya penuh haru dan tangisan bahagia yang tidak bisa dilukiskan oleh bentuk apapun juga.
Dari kisah inilah alhamdulillah aku sempat bertemu dengan sosok yang selama ini kami cari dan sempat pula mencium tangannya, yaitu, Sulthonul Bahri atau penjaga laut sedunia, Nabiyulloh Hidir AS, dan demi tulisan ini pula kami sempatkan untuk berkata, Demi Alloh, demi Alloh, demi Alloh, apa yang aku dapatkan selama ini adalah barang terbaik yang aku miliki, yaitu, mustika Hut Nabiyulloh Yunus As, atau mustika ikan hutt sewaktu Nabiyulloh Yunus As, dalam perut ikan Hut selama 41 hari lamanya (secara hikayat yang tercantum dalam Al Quran atau tafsirnya).
Sebelum sampai di penghujung cerita, saya atas nama pribadi mohon maaf yang sebesarnya apabila ulasan ini terlalu fulgar dan sangat transparan. Bukan maksud menggurui siapapun, kami hanya ingin menceritakan yang sebenarnya atas apa yang pernah aku peroleh sewaktu datang kedalam goa gunung Mujarod yang sangat membawa pengaruh besar bagi umat manusia, wabil khusus tentang perputaran zaman yang selalu ditandai beragam fenomena langka yang selalu diawali dari karomah gunung Mujarod.
Tentunya bagi para ahlillah dan ahli bathin khosois lainya, tidak ada yang tidak paham tentang siapa jati diri, Syekh Sanusi sesungguhnya dan apa pula yang dimaksud dari maul Mujarod yang disebut sebagai keluhuran derajat seluruh desa Pamijahan, juga bagaimana Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, sampai bisa datang dari negaranya, Bagdad, hanya sekedar ingin disyahkan derajat kewaliyannya, sehingga beliau mau sampai berlama menetap di daerah Pamijahan sebagai muridnya.
Kini koleksi dari Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, masih bisa anda nikmati disalah satu areal Pamijahan, yaitu goa Safar Wadi, yang telah dibuatnya sendiri, bahkan dalam sejarah Wali Songo goa ini sempat dijadikan tempat bermusyawarohnya para waliyulloh. Semoga kisah ini membawa rohmat bagi para pemimpin bangsa dan selebihnya untuk keselamatan seluruh umat pada umumnya.
Bagi yang penasaran dengan letak goa gunung Mujarod yang konon tidak ada dalam daftar peta maupun buku panduan, Saya akan sedikit memberi jalan kepada anda sekalian. Apabila anda sudah pernah ke goa Safar Wadi, tentunya anda juga tahu betul akan jalan lurus yang sebelumnya belok ke kanan sebelum arah menuju goa Safar Wadi.
ah, kalau goa gunung Mujarod sendiri belok ke kiri dan berlawanan arah dengan jalan menuju goa Safar wadi, yaitu naik ke atas bukit lewat jalan setapak yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh kaki manusia.
Apabila kita sudah sampai kesebuah bukit paling atas, berputarlah kearah kanan dan nanti disitu ada sebuah jurang yang sangat dalam, masuklah dengan jalan agak merangkak karena sangat licin dan juga terjal, turunlah sampai mentok kesebuah cadas berair, disitu anda bisa melihatnya secara jelas sebuah mulut goa kecil yang bila anda melihat kedalamnya tidak akan tembus pandang karena terlalu gelap.
Berhati hatilah bagi yang kurang persiapan mental, karena anda akan di sambut saat akan masuk goa oleh beberapa kalajengking raksasa dengan panjang berkisar antara 30 sampai 40 cm. semoga pembaca puas adanya.

Ajaran dan Karamah
Selain menjadi Mursyid Tarekat Syattariyyah, Syekh Abdul Muhyi juga mengajarkan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah – beliau menulis risalah Tarekat ini yang berjudul Kitab Tariqah Qadriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Sebagaimana Mursyid Tarekat pada umumnya, Syekh Abdul Muhyi mementingkan penanaman zikir, agar tidak sekedar lisan, tetapi juga merasuk dan tertanam kuat dalam hati. Syekh Abdul Muhyi menyebutkan tujuh prinsip perjalanan spiritual yang didasarkan pada zikir kalimat Tauhid.
Pertama adalah mendekatkan diri secara lahir dan batin. Kedua adalah mengisi lathaif (organ batin) dengan kalimat "laa ilaha illa Allah". Ketiga adalah menyatukan penglihatan mata batin dengan “rasa” Tuhan.
Selalu menyadari kekuasaan, otoritas dan kekekalan Allah. Unsur indera jasmani harus bersatu dengan indera ruhani dan hati. Keempat adalah menyatukan kalimat thayyibah dengan diri keseluruhan: indera, pikiran, perasaan, hati. Kelima adalah mengaktualkan kalimat thayyibah dalam perbuatan, yakni mempraktikkannya secara rinci. Ada empat modal utama dalam hal ini, yakni yakin, iman, islam dan sabar. Keenam adalah menjauhi semua perbuatan dosa. Dan ketujuh adalah menyatukan diri dalam kodrat dan iradat Ilahi.
Menurut Syekh Abdul Muhyi, orang Islam harus khusyuk mentafakuri makna kalimat laa ilaha illa Allah ini. Orang Islam tidak cukup hanya beribadah hanya karena ganjaran, hanya karena takut siksa. Yang lebih utama dari itu adalah ibadah sebagai tindak kepatuhan dan kebaktian kepada Allah, mengikuti perintah Rasulullah.

Mengenai zikirnya, Syekh Abdul Muhyi menyebut ada tujuh tingkatan zikir. 
  • Pertama zikir lisan dengan kalimat thayyibah atau zikir nafy-itsbat. 
  • Kedua adalah zikir ism al-dzat, menyebut kalimat Allah huwa Allah huwa, yang akan berlanjut ke zikir ism al-ghaib (hu hu).
  • Ketiga adalah zikir al-sirr, zikir pelan dalam hati. 
  • Keempat adalah zikir syughul al-insan al-kamil, yakni zikir dengan menggambarkan rupa guru sambil “mengukir” tanda kekuasaan Allah di dalam hati. 
  • Kelima adalah zikir syughul al-ibrah, zikir dengan niat menerakan asma Allah di dalam segala yang maujud. 
  • Keenam adalah zikir syughul al-mir’ah, yakni zikir dengan niat berkaca dalam cermin Allah.
  • Ketujuh adalah zikirsyughul al-isti’la, yakni semacam upaya menyaksikan dengan bashirah Allah, melihat di dalam kehendak-Nya, sehingga mampu melihat Ruh Muhammad dan seisi langit dan bumi. Sedangkan lathaif yang mesti dikenai zikir ada tujuh macam, yakni lathifah al-qalab, lathifah al-qalbi, lathifah al-khauf, lathifah al-akhfa, lathifah al-khafi, lathifah al-nafsi dan lathifah al-sirr.
Syekh Abdul Muhyi juga mengajarkan “martabat alam tujuh,” sebuah ajaran tentang tajalli Tuhan, yang bersumber dari ajaran sufi besar Syekh Muhammad ibn Fadlullah Burhanpuri yang dituangkan dalam kitab al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Ajaran ini berkembang dan diajarkan di banyak tempat di Nusantara dengan sedikit variasi versi – seperti oleh Syekh Abdurrauf, Hamzah Fansuri, Nuruddin Raniri, dalam serat Centhini karya pujangga Yasadipura II, dan serat Wirid Hidayat Jati karangan Ronggowarsito.
Versi Syekh Abdul Muhyi tidak jauh berbeda. 
  • Martabat pertama adalah Ahadiyyah – tahap ketika hanya ada Allah yang tanpa deskripsi, tanpa ungkapan, tanpa arah, tanpa tempat, pendeknya keadaan yang ghaib dari yang ghaib (ghaib al-ghuyub). Ini adalah ketersembunyian mutlak yang tak terjangkau bahkan oleh para Nabi, yakni “perbendaharaan tersembunyi.”
  • Martabat kedua adalah Alam al-Wahdah, atau ta’ayyun awal yang kadang disebut jauhar awal, atau cahaya pertama, yang dinamakan pula Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, atau a’yan tsabitah, entitas permanen, semacam “cetak biru” azali bagi eksistensi ciptaan, namun dalam bentuk global, belum ada rincian. 
  • Martabat ketiga adalah Alam al-Wahidiyyah, atau ta’ayyun tsani. Alam ini bersumber dari al-Wahdah yang dipancarkan menjadi empat cahaya: merah, kuning, putih dan hitam. Ketiga martabat pertama bersifat qadim dan baqa. 
  • Martabat keempat adalah Alam al-Arwah, yang dibuat dari cahaya dengan esensi. 
  • Martabat kelima adalah Alam al-Mitsal, adalah dunia “perantara,” di mana yang ruhani di materialkan dan yang material diruhanikan.
  • Martabat keenam adalah Alam al-Ajsam, yang merupakan wujud yang telah tersusun rapi. Tetapi ia bukan pelengkap bagi ruh, melainkan bentuk derajat yang lebih rendah dan kasar dalam gradasi hirarki eksistensi. 
  • Martabat ketujuh adalah Insan Kamil, yakni tujuan dari penciptaan, untuk memantulkan “perbendaharaan tersembunyi” dalam Keagungan dan Keindahannya-Nya.
Dalam kitab Istigal Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah diceritakan beberapa kisah karamahnya. Diantara adalah sebagai berikut. Suatu hari ada orang yang dikejar-kejar sekawanan lebah, lari meminta pertolongan Syekh Abdul Muhyi. Syekh Abdul Muhyi berseru kepada kelompok lebah itu, “Kenapa kalian lebah bersikap begitu kepada manusia. Apakah kalian tak mengerti di dalam tubuh manusia lahir dan batin ada lathaif laa ilaha illa Allah!” Lebah-lebah itu langsung mati. Lalu tubuh orang itu seperti keluar asap. Ia selamat tanpa bekas luka apapun.
Seorang pria membawa istrinya yang buta setelah melahirkan menemui Syekh Abdul untuk minta kesembuhan. Oleh Syekh Abdul Muhyi mereka diajak membaca kalimat tahlil sebanyak 163 kali (atau mungkin 165 kali) di masjid. Tak berapa lama orang itu pun sembuh. Di waktu yang lain seseorang membawa anak yang terkena stroke, tubuhnya mati separuh.
Kemudian diajak berzikir dengan tahlil sebanyak 163 kali hingga sembuh total. Adalagi orang yang tidak bisa tidur selama 11 hari dan minta tolong kepada Syekh Abdul Muhyi. Orang itu juga diajak berzikir sebanyak 163 atau 165 kali dan sembuh.
Syekh Abdul Muhyi juga menolong orang lewat karamahnya untuk memperbanyak hasil panen dan ternak kerbau. Syekh Abdul Muhyi juga dikenal kesaktiannya. Beliau mengalahkan dua tukang sihir sakti, dan kemudian dua penyihir itu menjadi murid-muridnya.

Bukti Kesaktiannya Bisa Sembuhkan Wanita Buta
Makamnya yang berada di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi salah satu pusat ziarah utama. Banyak yang berziarah kesanaterutama pada bukan maulid (Rabiul Awwal) untuk mengharapkan berkah dan tujuan-tujuan keduniawian.
Tidak diketahui pasti kapan Syekh Abdul Muhyi dilahirkan – setidaknya ada dua versi, yakni tahun 1640 dan atau 1650. Salah satu riwayat menyatakan beliau lahir di Kartasura. Ibundanya, Nyi R. Ajeng Tangenjiah, masih keturunan Rasulullah, sedangkan ayahandanya, Sembah Lebe Wartakusumah adalah keturunan Raja Galuh. Syekh Abdul Muhyi menghabiskan masa remajanya di Gresik, Jawa Timur.
Kemudian, pada usia 19 tahun, beliau pergi ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdur Rauf Singkel selama kurang lebih delapan tahun (1669-1677). Kemudian, dalam usia 27 tahun, beliau diajak gurunya menziarahi makam Sulthan al-Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
Beliau sempat bermukim di Baghdad selama dua tahun untuk mendalami Islam, terutama Tasawuf. Kemudian bersama gurunya pula beliau menunaikan ibadah haji. Di Mekah inilah Syekh Abdur Rauf menerima ilhami rabbani yang menyatakan bahwa salah satu muridnya akan menjadi wali besar.
Menurut ilham ini, jika nanti Syekh Abdur Rauf sudah mengetahuinya, maka si murid harus segera disuruh pulang ke Jawa untuk menyebarluaskan ajaran yang diperolehnya di suatu tempat tertentu. Tempat yang dimaksud bercirikan sebuah goa yang konon bekas tempat Syekh Abdul Qadir al-Jilani menjalani tawajjuh dalam menerima ilmu dari gurunya, Syekh Imam Sanusi.
Sebelum mencari tempat dimaksud, Syekh Abdul Muhyi pulang terlebih dahulu untuk mohon doa restu orang tuanya. Tetapi orang tuanya menyarankan agar beliau menikah terlebih dahulu. Beliau kemudian menikah dengan Ayu Bakta. Tak lama setelah menikah Syekh Abdul Muhyi berangkat menuju sebuah tempat yang kini disebut Darma di Kuningan Jawa Barat. Di sini beliau menetap selama tujuh tahun dan mendakwahkan ajaran Islam.
Sembari mengajar dan berdakwah beliau selalu mencari-cari goa yang diisyaratkan oleh ilham gurunya itu. Salah satu tanda lokasinya adalah jika beliau menanam padi satu, maka hasilnya juga satu, artinya tidak menambah penghasilan. Tetapi selama beberapa tahun menanam padi, hasilnya selalu melimpah-ruah.
Setelah tujuh tahun mencari tidak ketemu, beliau kemudian mengembara lagi, kali ini ke daerah Pameungpeuk, Garut Selatan. Kepergiannya ditemani sanak-keluarganya, termasuk kedua orang tuanya. Di sini beliau harus menghadapi lawan berat – para dukun ilmu hitam dan penjahat. Di sini pula ayahandanya meninggal dunia, dan dimakamkan di Kampung Dukuh.
Setelah setahun, beliau lalu melanjutkan perjalanan ke Batuwangi, dan Lebaksiuh. Dalam berdakwah di daerah-daerah ini beliau harus menghadapi tantangan dari penganut Hindu yang memusuhinya dan menyerangnya baik itu dengan ilmu gaib (sihir) maupun secara fisik.
Tetapi karena selama menanam padi di sini hasilnya juga melimpah, beliau melanjutkan perjalanan ke lembah di gunung Cilumbu, sebuah lembah yang indah. Gunung ini kelak dinamakannya “Gunung Mujarod,” tempat menenangkan diri atau dalam bahasa Sunda “nyirnakeun manah.” Di kawasan inilah padi yang ditanam Syekh Abdul Muhyi hanya berbuah satu. Dan pada 1690 M beliau, yang sudah berumur 40 tahun, menemukan goa yang kelak dikenal sebagai Goa Pamijahan.
Goa inilah yang kemudian menjadi pusat dakwahnya, dan merupakan tempat yang keramat, karena sering dipakai oleh Syekh Abdul Muhyi untuk melakukan riyadhah spiritual. Konon Syekh Abdul Muhyi bisa langsung ke Mekah melalui salah satu lorong sempit di di sekitar goa itu.
Saat itu tempat itu masih dinamakan Goa Safar Wadi. Nama Pamijahan adalah sebagai perlambang – karena banyak orang berdatangan berduyun-duyun ke goa, laksana ikan yang akan bertelur (mijah), maka ia kemudian disebut “Pamijahan.”
Kharisma dan keilmuannya menyebabkan nama Syekh Abdul Muhyi terkenal di mana-mana. Bahkan banyak ulama yang datang untuk berguru kepadanya. Yang terkenal adalah Syekh Maulana Mansurudin (putra Sultan Abdul Fatah Tirtayasa Banten) dan Syekh Ja’far Shadiq dari Garut.
Konon mereka bertiga sering pergi ke Mekah lewat sebuah lorong sempit di goa. Bahkan Sultan Mataram saat itu (Paku Buwana I) secara khusus meminta Syekh Abdul Muhyi untuk mengajari putra-putrinya, dengan imbalan daerah Pamijahan akan dibebaskan dari pajak, atau dijadikan tanah perdikan yang otonom. Syekh Abdul Muhyi meninggal pada tahun 1715 atau menurut riwayat lain tahun tanggal 8 Jumadil Awwal 1151 H atau 1730 M

Sumber : http://suaratuhan.blogspot.com/2013/01/syekh-abdul-muhyi-wali-penyebar.html

Kamis, 05 Desember 2013

Ulama Indonesia | Syeh Ahmad Khatib Sambas

KUmpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | Syeh Ahmad Khatib Sambas 

Assalamu'alaikum wr, wb.

Syeh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875)
Cerita Guru dan Murid Murid Syeh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875)
Syeikh Ahmad Khatib Sambas yang merupakan Guru para Ulama Nusantara dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya :
1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syeh Ahmad al-Marzuqi
7. Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.
Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karyanya

Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.
Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.
Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.
Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain :

  • 1. Syeh Nawawi Al Bantani
  • 2. Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
  • 3. Syeh Abdul Karim Banten
  • 4. Syeh Tolhah Cirebon

Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Murid murid Syeh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain :
1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.
Dari tiga murid Syeh Ahmad Khatib Sambas, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berkembang luas :

- Syeh Abdul Karim Banten mempunyai murid : H. Sangadeli Kaloran, H. Asnawi Bendung Lempuyang, H. Abu Bakar Pontang, H. Tubagus Isma’il Gulatjir dan H. Marzuki Tanara. Dari semua muridnya ini yang paling terkenal adalah yang disebut paling akhir. Dimana, sepulang dari Mekkah H. Marzuki Tanara mendirikan pondok pesantren di tempat kelahirannya (Tanara). Di Tanara ia mengajar dari tahun 1877-1888. Dua ulama terkemuka Banten, Wasid dan Tubagus Isma’il sering berkonsultasi kepadanya tentang masalah agama dan masalah yang ditimbulkan oleh kolonialisme.

Syeh Abdul Karim Banten sempat pulang ke Banten pada tahun 1872, membangkitkan perlawanan thd Belanda yaitu peristiwa pemberontakan petani Banten yang sejatinya adalah perlawanan para pengilkut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Pada tahun 1876 Syeh Abdul Karim Banten kembali ke Mekkah menggantikan posisi Syeh Ahmad Khatib Sambas yang telah wafat.

TQN centre dari jalur Syeh Abdul Karim Banten selanjutnya berpusat di Pagentongan Bogor dibawah asuhan Syeh Thohir Falak.

- Syeh Tolhah Cirebon mempunyai murid Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) yang berguru selama 25 tahun kepada Syeh Tolhah, kemudian diperintahkan oleh gurunya untuk mendirikan pesantren Suryalaya di Tasikmalaya yang kemudian diteruskan oleh anaknya Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom).

- Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura memberikan estafet Mursyid kepada Syeh Ahmad Hasbullah di Rejoso Jombang, kemudian diteruskan kepada Syeh Khalil diteruskan kepada Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Rejoso Jombang, diteruskan kepada anaknya Musta'in Romli ketua Jamiah Ahlul Thoriqot Muktabaroh.

Ketika Syeh Mustain Romli berafiliasi ke Golkar, para pengurus Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh membentuk JATMAN (Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh An Nahdliyah) yang tetap berafiliasi ke NU dengan ketua Syeh Adlan Ali, salah satu murid Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Cukir Jombang. Sepeninggal Kyai Adelan Ali ketua JATMAN dijabat oleh Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan (Tarekat Syadziliyah) sampai sekarang.

Syeh Romli Tamim juga mempunyai murid Syeh Muslih pesantren Mranggen Semarang yang mengembangkan tarekat TQN di Jawa Tengah

Sumber : http://riwayat-ulama.blogspot.com

Rabu, 04 Desember 2013

Ulama Indonesia | KH. ISMAIL (KUPANG RANTAU )

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | KH. ISMAIL (KUPANG RANTAU )

Assalamu'laikum wr, wb.
KH. ISMAIL (KUPANG RANTAU )
Tuan guru KH. Ismail dilahirkan di Kupang Belangmas sekitar ± 3 km dari kota Rantau. Ayahanda beliau bernama H. Muhammad bin H. Abdullah sedangkan ibunda beliau bernama Hj. Fatimah. Tuanguru H. Ismail di didik dalam lingkungan keluarga yang taat dalam menjalankan ibadah agama. Kakek Tuan guru H. Ismail yaitu H. Abdullah mempunyai hubungan keluarga yang sangat dekat dengan Tuan guru KH. Muhammad, Gadung. Oleh sebab itu Tuan guru H. Ismail mempunyai hubungan zuriat Datu Gadung Syeikh Salman al-Farisi.
Lingkungan keluarga yang taat dalam menjalankan ibadah agama sangat berdampak pada perkembangan pendidikan keagamaan Tuan guru H. Ismail. Mulai kecil beliau sudah dididik dalam hal keagamaan dan orang tua beliau cukup ketat dalam memberikan pendidikan agama terhadap anak-anak. Lingkungan keluarga inilah merupakan salah satu yang dapat mendorong beliau mempunyai ilmu pengetahuan agama dan menyelesaikan pendidikan agama.

A. Riwayat Pedidikan (mengaji)
Mengaji di Nagara
Kebanyakan orang-orang alim yang berasal dari Tapin imumnya pada awalnya mengaji di Nagara, Hulu Sungai Selatan. Demikian juga yang dilakukan oleh tuan guru KH. Ismail, beliau mengaji di Nagara dengan tuan guru-tuan guru yang berada di Nagara untuk mengaji berbagai kitab-kitab. Ilmu pengetahuan agama yang dipelajari selama mengaji di Nagara adalah tauhid, fiqih,tasauf. Setelah beberapa tahun mengaji di Nagara dengan tuan guru-tuan guru disana untuk mengaji berbagai kitab yang berhubungan dengan tauhid, fiqih dan tasawuf serta ilmu pengetahuan agama lainnya. Tuan guru KH. Ismail selama di Martapura juga mengaji secara khusus dengan mendatangi Tuan guru KH. Abdurrahman (Guru H. Adu) orang tua Tuan guru KH. Husein Qadri, tunggulirang.
Denga tuan guru KH. Abdurrahman, beliau banyak mendapatkan ilmu pengetahuan agama dan lebih mendalami lagi. Untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama sangat diperlukan dengan mendatangi tuan guru-tuan guru secara khusus di rumah. Sekitar ± 5 tahun beliau mengaji di Martapura, oleh orang tua beliau dikirim ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama.
Mengaji ke Mekkah
Tuan guru KH. Ismail adalah orang yang merasa tidak puas dengan ilmu pengetahuan agama yang sudah dimiliki, beliau selalu merasa ilmu pengetahuan agama yang dimilikimasih kurang dan ingin terus memperdalam ilmu agama. Oleh sebabitu beliau disuruh oleh orang tua untuk menuntut ilmu pengetahuan agama di Mekkah. Mengaji di Mekkah tidak berapa lama karena disebabkan situasi disana yang kacau dengan adanya perang saudara. Situasi yang kurang menguntungkan inilah bagi warga Negara asing terutama bangsa Indonesia yang berada di Mekkah untuk kembali ke tanah air.
Menurut catatan dari Tuan guru KH. Ismail bin H. Muhammad ketika beliau berada di Mekkah bahwa ada beberapa alim ulama yang tidak lagi sembahyang di Masjidil Haram. Mereka yang tidak lagi sembahyang di Masjidil Haram ini berbeda dengan pendapat kaum hawabi yang menguasai mekkah termasuk Tuan guru KH. Ali al-Banjari zuriat Datu Kalampayan yang menjadi guru di mekkah tidak mengikuti imam di Masjidil Haram. Ketika anak tuan guru KH. Ali yaitu tuan guru H. Husein Wali sembahyang di masjidil haram tidak mengikuti imam melainkan melaksanakan sendiri dan diikuti oleh murid-murid beliau. Apa yang dilakukan tuan guru KH. Husein Wali tersebut tersebar di masyarakat mekkah bahwa beliau tidak mengikuti imam pada waktu sembahyang. Padahal imam yang memimpin sembahyang di masjidil haram merupakan imam pilihan yang telah ditunjuk oleh raja.
Atas kejadian ini orang tua beliau KH. Ali al-Banjari dipanggil oleh raja untuk disidang dan tuan guru KH. Ali meminta agar imam tersebut juga dihadirkan. Dalam pertemuan tersebut tuan guru KH. Ali menyampaikan beberapa pertanyaan tentang tauhid kepada imam masjidil haram . jawaban yang disampaikan oleh imam masjid seolah-olah Tuhan sama dengan makhluk (manusia) mempunyai tangan dan kaki maka itu Mujassimah.

B. Mengembangkan syiar Islam
Bidang Dakwah
Tuan guru KH. Ismail telah mengaji dimana-mana, beliau kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan agama dengan membuka pengajian-pengajian. Di rumah beliau di Kupang Belangmas Rantau membuka pengajian dengan berbagai kitab yang disampaikan mengenai tauhid, fiqih, tasauf dan berbagai rukun-rukun. Di samping memberikan pengajian di rumah, beliau juga memberikan pengajian di langgar-langgar seperti langgar Timbung, langgar Banua Padang. Tuan guru KH. Ismail dalam memberikan pengajian sering diselingi dengan hal-hal yang lucu membuat jemaah yang mendengar menjadi segar tidak merasa jenuh.
Tuan guru KH. Ismail juga memberikan pengajian kepada masyarakat yang menghajatkan kepada beliau menyampaikan pengajian agama, selain memberikan pengajian secara rutin. Dalam meberikan pengajian dilakukan beliau dengan naik sepeda walaupun daerah yang dituju cukup jauh dan sulit dijangkau

Panitia Pembangunan Mesjid Tajul Qurra Kupang
Tuan guru KH. Ismail merupakan salah satu pemprakarsa pembangunan mesjid Tajul Qurra di Kupang Rantau . Pembangunan mesjid dikarenakan masyarakat kupang kalau melaksanakan sembahyang jumat, mereka pergi ke masyarakat Baiturrahman di Rantau yang berjarak ± 3 km. pada masa itu mesjid yang ada di sekitar rantau hanya mesjid Baiturrahman yang lainnya tidak ada. Jauhnya masyarakat kalau melaksanakan sembahyang jumat yang harus menempuh jarak ± 3 km, maka tuan guru KH. Ismail dengan beberapa tokoh masyarakat beinisiatif membangun mesjid di Kupang. Keinginan ingin membangun mesjid di kupang disambut gembira oleh masyarakat dengan cara bergotong royong mendirikan mesjid. Masyarakat begotong royong membeli kayu dan bahan bangunan lainnya serta bekerja bersama-sama membangun mesjid sebagai keinginan mereka. Setelah selesai membangun mesjid dan mesjid tersebut diberi nama dengan mesjid Tajul Qurra. Khotbah yang disampaikan setiap shalat jumat menggunakan bahasa arab sama seperti yang dilakukan di mesjid Keramat, Banua Halat

C. Berpulang ke Rahmatullah
Tuan guru KH. Ismail menunaikan rukun islam yang kelima naik haji ke mekkah bersama istri beliau pada tahun1957. Pada saat menunaikan ibadah haji di mekkah, Tuan guru KH. Ismail jatuh sakit dan sempat dibawa ke rumah sakit. Namun usaha ini tidak dapat menolong beliau dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan usia ± 63 tahun. Tuan guru KH. Ismail dikuburkan di pemakaman di Mekkah yaitu Mu’ala.

D. Keramat Beliau
Tubuh Masih Utuh
Kekeramatan Tuan guru KH. Ismail dapat ditunjukkan oleh badan beliau tidak rusak walaupun sudah beberapa tahun meninggal dunia. Hal ini disampaikan oleh Hj. Amnah yang msih ada hubungan keluarga dengan Tuan guru KH. Ismail ketika naik haji sempat ziarah ke makam beliau di Mu’ala. Waktu mereka ziarah masuh diperbolehkan oleh petugas penjaga makam untuk melihat jasad dan Subhanallah tubuh Tuan guru KH. Ismail masih utuh dipelihara oleh Allah walaupun sudah beberapa tahun beliau meninggal dunia.
Menjaga Kampung
Pada masa penjajahan belanda, bangsa Indonesia di kuasai oleh Belanda mulai pusat sampai ke daerah tidak kecuali ke daerah Tapin. Suasana menjadi tidak aman, namun daerah kupang tidak dapat dikuasai oleh Belanda karena apabila ingin memasuki daerah Kupang melihat seperti lautan . keadaan seperti ini sama dengan daerah gadung di Kecamatan Bakarangan yang tidak dapat dimasuki oleh belanda. Tuan guru KH. Ismail memagari kampung kupang dengan doa-doa agar kampung terhindar dari maksud jahat dari luar
Ada yang Menjaga Rumah
Pernah terjadi pencuri ingin mengambil barang Tuan guru H. Ismail di rumah pada malam hari. Ketika pencuri ingin memasuki rumah beliau, pencuri diserang oleh serangga (katikih) sehingga pencuri membatalkan niatnya untuk mencuri karena tidak mampu memasuki rumah. Kejadian ini tidak hanya terjadi satu kali saja tetapi setiap kali orang berkeinginan jahat mengambil barang beliau di rumah tidak dapat memasuki karena diserang oleh serangga. Hal ini disampaikan oleh pencuri yang sudah isyaf dan tidak lagi melakukan kejahatan mengambil barang orang lain yang menceritakan mengenai keramat Tuan guru H. Ismail.
Wassalamu'laikum wr, wb.
Sumber : http://riwayat-ulama.blogspot.com

Selasa, 03 Desember 2013

Ulama Indonesia | Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Ulama Indonesia | Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni

Assalamu'alaikum wr, wb.

KH Abdur Rahman (Ambon)

Ada Lafadz Alloh (awan) diatas masjid Ambon
KH. Abdul Rahman Ambon adalah cucu murid kepada Sheikh Ahmad Khathib As-Sambasi dalam bidang tarekat Qodiriyah.

KH. Abdur Rahman Ambon Nama lengkap ialah Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni. Beliau terkenal dengan gelaran 'Pak Tuan Alim Ambon'. Menetap di Mekah dengan belajar sambil mengajar di sana sekitar 40 tahun lamanya.
Banyak tempat yang dipelajarinya, termasuklah daripada ulama-ulama yang pernah mengajar Haji Wan Abdur Rahman bin Haji Abu Bakar, iaitu Imam Masjid Jamek Sabang Barat yang pertama yang pernah dibicarakan.
Penulis berpendapat, sebelum Haji Abdur Rahman Ambon datang ke Pulau Tujuh, beliau pernah mengembara ke Kalimantan Barat, Indonesia. Ini kerana penulis menemui sebuah kitab amalannya bernama Riyadhus Shalihin di Kampung Sungai Bundung, Kabupaten Pontianak, Indonesia. Di bahagian pinggir kitab tersebut telah termaktub nama beliau.
Berkemungkinan besar beliau ke Kalimantan Barat dengan seorang muridnya yang juga seorang ulama besar bernama Haji Muhammad Shalih dari Sarawak. Kubur ulama besar tersebut juga terletak di Sungai Bundung, Kalimantan Barat.
Bahkan dikatakan Haji Abdur Rahman Ambon juga mungkin pernah ke Sarawak, kerana hobinya memang gemar menyebarkan Islam dengan mengembara. Bahkan sebelum ke Midai, beliau pernah mengajar di Pulau Natuna, terutama Pulau Tiga dan Sedanau.
Haji Abdur Rahman Ambon dikenali sebagai seorang ulama ahli sufi dan dikatakan mempunyai beberapa kekeramatan. Diceritakan bahawa pernah terjadi satu kebakaran di Pulau Tiga yang menghabiskan kebanyakan perkebunan kelapa. Maka beliau terus berdiri dan berdoa, lalu secara tiba-tiba sahaja datang angin serta hujan lebat yang secara tidak langsung memadamkan api.
Murid-murid Haji Abdur Rahman Ambon
Murid-murid beliau sangat ramai, baik di Mekah, Kalimantan Barat mahupun Sedanau dan Pulau Tiga, Midai. Bahkan boleh dikatakan hampir kesemua imam Masjid Jamek Sabang Barat selepas beliau adalah muridnya. Mereka ialah:
1. Haji Muhammad Shalih, yang berasal dari Sarawak seperti yang disebutkan. Beliau adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat dan Sarawak. Semasa di Pontianak, beliau berkahwin dengan ibu saudara Haji Abdur Rani Mahmud, iaitu seorang ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat.
Mengenai beliau ini pernah disentuh oleh penulis tentang sejarah beliau secara terperinci. Haji Muhammad Shalih tersebut meninggal di Kalimantan Barat dan dimakamkan di Sungai Bundung, Indonesia.
2. Haji Bujang, iaitu imam Masjid Jamek Sabang Barat yang keempat.
3. Haji Mat Tali, imam yang kelima.
4. Haji Muhammad Mirun, imam yang keenam.
5. Haji Muhammad Jamin, imam masjid yang ketujuh.
6. Haji Musa, imam yang kelapan.
Mengenai murid-murid beliau yang di tempat lainnya tidak dapat dinyatakan. Ini kerana hanya dapat diketahui bahawa beliau mempunyai ramai murid di pelbagai tempat, tetapi nama-nama mereka tidak dapat dikenal pasti dengan mendalam.
Keturunan
Haji Abdur Rahman Ambon mendapat seorang anak perempuan lalu dikahwinkan dengan murid dan anak angkatnya iaitu Haji Muhammad Mirun. Anak lelakinya juga hanya seorang iaitu Haji Bujang bin Haji Abdur Rahman Ambon.
Tuan Guru Haji Abdur Rahman Ambon meninggal dunia di Midai, Indonesia pada 24 Jamadilakhir 1355 H, dan dikuburkan di Perkuburan Suak Besar, berhadapan bekas Masjid Suak Besar.
Sekembalinya Tuan Guru Haji Abdur Rahman Ambon ke rahmatullah, maka digantikan pula dengan imam yang keempat. Terdapat sedikit pertikaian mengenai imam yang keempat ini, disebabkan banyak pendapat mengenainya.
Menurut penduduk-penduduk Midai, imam Masjid Jamek Midai yang keempat adalah Haji Mat Tali dan ada mengatakan Haji Muhammad Mirun, juga Haji Bujang.
Pun begitu, penulis meletakkan Haji Bujang sebagai imam yang keempat. Ini kerana jarak masa Haji Abdur Rahman Ambon meninggal dunia tidak jauh dengan meninggalnya Haji Bujang. Haji Abdur Rahman meninggal pada 24 Jamadilakhir 1355 H, manakala Haji Bujang meninggal dunia pada hari Rabu, 8 Syawal 1357 H. 
(tulisan Allahyarham Wan Mohd. Saghir Abdullah )

Wallohu'alam
Assalamu'alaikum wr, wb.
Sumber : http://riwayat-ulama.blogspot.com

Copyright @ 2013 ilmu tentang islam.