Tampilkan postingan dengan label Malik Bin Dinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malik Bin Dinar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

Bagaimana Cara Bertaubat Seorang Ulama zaman Tabi'in, Malik Bin Dinar

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Bagaimana Cara Bertaubat Seorang Ulama zaman Tabi'in, Malik Bin Dinar

Bismillahirrohmanirrohiim....
Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudia aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. 

Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.


Ketika malam dipertengahan bulan Sya'ban dan itu di malam Jum'at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya'. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku
berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku. Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan
membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak,
maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :
"Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :
"Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku, "Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku
itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan, "Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"
Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.
Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala
ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu
pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang
dapat melindunginya dari musuhnya (ular). Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :
"Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya". Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :
"Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.
Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : "Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah". (QS. Al-Hadid : 16).
Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur'an", maka dia berkata : "Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur'an darimu", aku berkata : "Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab : "Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", aku berkata :
"Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata : "Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anak anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).
Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah".


Dikutip dari : Hakikat Taubat.
Source : http:/www.alirsyad-alislamy.or.id

Cerita Abu Yahya Malik bin Dinar Sang Pemberani

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Cerita  Abu Yahya Malik bin Dinar Sang Pemberani
Peninggalan Malik Bin Dinar di India

“Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.“........(Ibnu Sa’ad)
Dialah Abu Yahya Malik bin Dinar. Sosok yang meninggalkan syahwat dunia. Penakluk jiwa ketika sedang bergejolak. Demikianlah Abu Nuaim memberikan sifat pada Malik bin Dinar dalam al-Hilyahnya.
Malik bin Dinar dilahirkan pada masa Ibnu Abbas R.a. Ia sempat bertemu dengan Anas bin Malik. Karenanya, ia diliputi berkah ilmu yang bermanfaat. Ia pun mengambil manfaat dari ulama shalih dari kalangan sahabat Nabi. Ia belajar akhlak suci dari mereka, adab dan sunah yang diridhoi Allah. Malik bin Dinar menjadi salah satu seorang pemimpin kaum muslimin yang ternama.
Ibnu Sa’ad berkata,”Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.”
Ibnu Hibban menambahkan dalam ats-Tsiqatnya,” Malik bin Dinar menulis Mushaf dan mendapatkan honor. Ia makan dari honor itu.”
Dialah imam zuhud. Terdepan dalam Wara’. Kezuhudannya menjadi perumpamaan. Mati kita renungi potongan kisah dari kehidupan ulama ini. Suatu ketika ia menemui Anas bin Malik R.a. Bersamanya ikut Tsabit dan Yazid ar-Raqasyi. Anas bin Malik memandang mereka dengan kagum, seraya berkata,”Betapa mirip kalian dengan para sahabat Rasulullah SAW. Sungguh kalian lebih aku cintai dari sekian anakku, kecuali mereka mempunyai keutamaan seperti kalian. Sungguh aku mendoakan kalian dimalam hari.”
Renungkanlah. Mereka didoakan oleh Abu Hamzah Anas bin Malik. Semata karena cinta pada Allah SWT. Apakah ada seseorang yang mencintai seperti Anas bin Malik kecuali orang-orang shalih dan ahli taat? Merekalah orang-orang yang benar bersama Allah dan Allah pun membenarkan mereka dengan kecintaan orang-orang shalih dan ahli ibadah.
Betapa tinggi kedudukan mereka! Suatu ketika ia membaca firman Allah SWT:

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه
Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.”(QS.al-Hasyr:21)
Malik bin Dinar berkata,”Aku bersumpah pada kalian, tidak beriman seorang hamba dengan al-Qur’an kecuali hatinya terpecah.”
Abdul Aziz bin Salman menuturkan,”Aku dan Abdul Wahid bin Zaid menemui Malik bin Dinar. Kami dapati dia berdiri dari majelisnya, lalu masuk kerumahnya. Kemudian dia menutup pintu kamar. Kami duduk menunggunya hingga keluar atau mendengar darinya suatu gerakan. Kami kemudian minta izin. Malik bin Dinar seperti mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami, lalu terdengar dia menangis. Sampai-sampai kami merasa kasihan mendengar tangisannya. Kemudian tubuhnya bergetar, bernafas lalu pingsan.”
Abdul Wahid berkata,”Kita pergi. Kita tidak ada urusan hari ini dengan laki-laki ini. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.”
Pada kesempatan lain ia memasuki kawasan pekuburan. Tiba-tiba ada seseorang yang sedang dikubur. Malik datang dan berdiri disamping kuburan sambil memperhatikan orang yang dikubur. Malik bin Dinar mulai berkata, ”Wahai Malik, besok beginilah keadaanmu. Tidak ada seseorang pun yang bisa menolongmu dikuburan.“
Malik bin Dinar terus berkata,“ besok beginilah keadaanmu.“ Hingga ia pingsan dan tersungkur dilubang kubur. Orang-orang pun segera membawanya kerumah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Malik bin Dinar selalu mengulang-ngulang,“Wahai Tuhannya Malik!Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka, dimanakah tempat malik?“kemudian Malik bin Dinar menangis!
Renungkan bagaimana ia menggambarkan keadaan seorang hamba di hari Kiamat ketika ia meninggalkan dunia ini.
Suatu ketika ia naik kapal. Saat kapal itu berada disebuah jembatan, diserukan agar awaknya tidak keluar dan berdiri dari tempatnya.
Malik bin Dinar malah keluar, mengambil pakaiannya dan memanggulnya lalu melompat dari kapal dan berdiri diatas tanah.“Apa yang membuatmu keluar?seru juru mudi.
”Tidak ada apa-apa!Jawab Malik.
“Pergi!” ujar juru kemudi lagi.
Malik berkata dalam hati,”beginilah akhirat.”
Betapa indah perumpamaan ini! Tidak mungkin dimengerti kecuali oleh hati yang suci, bersih seperti putihnya susu.
Beginilah Malik selalu mengevaluasi dirinya.. Tak ada tempat dihatinya kecuali zikir kepada Allah dan ketakutan yang selalu melekat disekujur anggota tubuhnya.
Suatu ketika, Harits bin Nabhan memberinya hadiah sebuah bejana yang terbuat dari kulit. Bejana itu berada ditempat Malik bin Dinar beberapa saat. Ketika Harits datang, Malik segera memanggilnya,
”Wahai Harits, kemarilah! Ambil bejanamu! 
Dia telah membuat hatiku sibuk. Setiap kali aku memasuki masjid, syetan datang dan berkata,”Wahai Malik, bejanamu telah dicuri.”Dia telah membuat sibuk hatiku.
Sungguh! Malik tak ingin ada yang mengusik hatinya kecuali takut pada Allah. Alangkah bahagianya pemilik hati ini!
Simaklah keluhannya suatu saat,”Aku berharap Allah mengizinkan ketika aku berada dalam genggaman TanganNya kelak aku sujud sekali saja. Sehingga aku tahu bahwa Dia telah ridha. Lalu Dia berkata kepadaku,”Wahai Malik jadilah debu.”
Sungguh ketakutan pada Allah telah memenuhi hati orang-orang yang bertakwa. Maka ia pun mendekat padaNya dan jauh dari godaan makhluk.
Ada seorang laki-laki terkaya di Bashrah. Ia mempunyai seorang putri yang teramat cantik. Suatu saat sang Ayah berkata,”Keturunan Hasyim pernah melamar padamu, dari bangsa arab!Tapi engkau menolak. Kukira engkau menginginkan Malik bin Dinar dan sahabatnya?”
”Demi Allah, itulah cita-citaku,”jawab sang putri.
Sang ayah berkata pada salah seorang saudaranya,”Temui Malik. Kabarkan tentang kedudukan putriku dan keinginannya!”
Ketika bertemu Malik, utusan ayah gadis itu berkata,”seseorang menyampaikan salam untukmu. Dia berpesan,’Sungguh engkau mengetahui bahwa aku orang paling kaya dikota ini. Aku punya seorang putri cantik yang ingin menikah denganmu. Apa pendapatmu?”
Malik menjawab,”Sungguh aneh. Apakah engkau tidak tahu bahwa aku telah menceraikan dunia dengan talak tiga!” Malik bin Dinar telah menceraikan dunia sehingga ia tidak peduli dengan apa-apa yang hilang dari dunianya.
Saat lain, Malik tertarik untuk memakan roti campur susu. Seorang temannya datang membawakan makanan yang dimaksud. Sejenak Malik membolak-balikkan roti itu lalu berkata,”Aku merindukanmu selama 40 tahun. Dan aku berhasil mengalahkan keinginanku itu. Hari ini engkau ingin mengalahkanku?pergi dari sisiku!” Malik tak mau memakannya.
Malik bin Dinar tak hanya zuhud dalam hal makanan. Kediamannya pun sangat sederhana. Dirumahnya tak ada apa pun kecuali Mushaf dan pakaiannya. Tentang rumahnya ini dia berkata,” Siapa yang masuk ke rumahku lalu mengambil sesuatu, maka itu halal baginya. Saya tak butuh gembok atau kunci.”
Suatu saat, seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun ia tidak menemukan sesuatu pun. Malik berkata,”wahai pencuri, engkau tidak menemukan apa-apa dari harta dunia. Apakah engkau ingin bagian dari akhirat?”
”Ya!” jawab pencuri.
”Berwudhulah dan shalat dua rakaat.”
Pencuri itupun melakukannya. Ia pun pergi ke masjid bersama Malik bin Dinar. Ketika Malik di tanya tentang orang yang bersamanya, ia menjawab,”Dia datang untuk mencuri. Maka dia yang kami curi.”
Suatu ketika, gubernur bashrah lewat bersama rombongan dan tentaranya. Malik berseru,”Paling sedikit dari perjalananmu ini.”Para pembantu gubernur marah dan mengancam Malik. Namun sang gubernur buru-buru mencegah, lalu berkata pada Malik,”Apakah engkau tidak mengenalku?”
“Siapa yang lebih tahu tentang dirimu dari pada aku? Awalmu dari tetesan mani yang jijik. Akhirmu adalah jenazah yang hina. Sekarang engkau berada di antara dua kondisi itu membawa kotoran.”
Sang gubernur menundukan wajahnya lalu pergi sembari berkata,”Sekarang, sungguh engkau telah mengetahui siapa diriku.”
Begitulah kehidupan Malik bin Dinar. Seorang zuhud dalam segala hal. Berani pada semua makhluk dan hanya takut pada Allah.
Ia meninggal dunia sebelum wabah Tha’un (kolera) melanda Bashrah. Wabah itu melanda pada tahun 131 Hijriyah. Semoga kita bisa mengikuti jejaknya.....Amien

Sumber:
Shuwar min Siyar at-Tabi’in, karya Azhari Ahmad Mahmud
Siyar A’lam at Tabi’in, karya Shabri bin Salamah Syahin
Malik bin Dinar r.a. berkata, “Cegahlah tiga perkara dengan tiga perkara lain, sehingga engkau benar-benar termasuk orang yang beriman, yaitu : hilangkan takabur dengan tawadhu, hilangkan sifat rakus dengan qana'ah, hilangkan hasud dengan nasehat.”

Copyright @ 2013 ilmu tentang islam.